<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sebuah Jalan Setapak</title>
	<atom:link href="http://jalansetapak08.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://jalansetapak08.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Thu, 12 May 2011 03:14:55 +0000</lastBuildDate>
	<language>ia</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='jalansetapak08.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sebuah Jalan Setapak</title>
		<link>http://jalansetapak08.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://jalansetapak08.wordpress.com/osd.xml" title="Sebuah Jalan Setapak" />
	<atom:link rel='hub' href='http://jalansetapak08.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Gerakan Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia</title>
		<link>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/29/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia/</link>
		<comments>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/29/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 29 Sep 2008 23:45:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orientalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Gerakan]]></category>
		<category><![CDATA[Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Sempalan]]></category>
		<category><![CDATA[Ummat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak08.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Istilah "gerakan sempalan" beberapa tahun terakhir ini menjadi populer di Indonesia sebagai sebutan untuk berbagai gerakan atau aliran agama yang dianggap "aneh", alias menyimpang dari aqidah, ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat. Istilah ini, agaknya, terjemahan dari kata "sekte" atau "sektarian",[1]  kata yang mempunyai berbagai konotasi negatif, seperti protes terhadap dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap eksklusif, pendirian tegas tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran, dan fanatisme. Di Indonesia ada kecenderungan untuk melihat gerakan sempalan terutama sebagai ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dan untuk segera melarangnya. Karena itu, sulit membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau gerakan oposisi politikHampir semua aliran, faham dan gerakan yang pernah dicap "sempalan", ternyata memang telah dilarang atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama. Beberapa contoh yang terkenal adalah: Islam Jamaah, Ahmadiyah Qadian, DI/TII, Mujahidin'nya Warsidi (Lampung), Syi'ah, Baha'i, "Inkarus Sunnah", Darul Arqam (Malaysia), Jamaah Imran, gerakan Usroh, aliran-aliran tasawwuf berfaham wahdatul wujud, Tarekat Mufarridiyah, dan gerakan Bantaqiyah (Aceh). Serangkaian aliran dan kelompok ini, kelihatannya, sangat beranekaragam. Apakah ada kesamaan antara semua gerakan ini? Dan apa faktor-faktor yang menyebabkan munculnya gerakan-gerakan tersebut? Tanpa pretensi memberikan jawaban tuntas atas pertanyaan ini, makalah ini berusaha menyoroti gerakan sempalan dari sudut pandang sosiologi agama.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=24&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Martin van Bruinessen, <span style="font-family:Times New Roman;"><span style="font-size:small;">&#8220;Gerakan       sempalan di kalangan umat Islam Indonesia: latar belakang sosial-budaya&#8221;       (&#8220;Sectarian movements in Indonesian Islam: Social and cultural       background&#8221;), <em><br />
Ulumul Qur&#8217;an</em> vol. III no. 1, 1992, 16-27.</span></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Gerakan         Sempalan di Kalangan </span><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Ummat         Islam Indonesia:</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="font-size:16pt;font-family:&quot;">Latar         Belakang Sosial-Budaya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family:&quot;">Martin         van Bruinessen</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Istilah         &#8220;<em>gerakan sempalan</em>&#8221; beberapa tahun terakhir ini menjadi         populer di Indonesia sebagai sebutan untuk berbagai gerakan atau aliran         agama yang dianggap &#8220;aneh&#8221;, alias menyimpang dari aqidah,         ibadah, amalan atau pendirian mayoritas umat. Istilah ini, agaknya,         terjemahan dari kata &#8220;<em>sekte</em>&#8221; atau &#8220;<em>sektarian</em>&#8220;,</span><a name="_ftnref1" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn1"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[1]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> kata yang mempunyai berbagai konotasi negatif, seperti protes terhadap         dan pemisahan diri dari mayoritas, sikap eksklusif, pendirian tegas         tetapi kaku, klaim monopoli atas kebenaran, dan fanatisme. Di Indonesia         ada kecenderungan untuk melihat gerakan sempalan terutama sebagai         ancaman terhadap stabilitas dan keamanan dan untuk segera melarangnya. </span><span style="font-family:&quot;">Karena         itu, sulit membedakan gerakan sempalan dengan gerakan terlarang atau         gerakan oposisi politik. Hampir semua aliran, faham dan gerakan yang         pernah dicap &#8220;<em>sempalan</em>&#8220;, ternyata memang telah dilarang         atau sekurang-kurangnya diharamkan oleh Majelis Ulama. Beberapa contoh         yang terkenal adalah: <em>Islam Jamaah</em>, <em>Ahmadiyah Qadian</em>, <em>DI/TII</em>,         <em>Mujahidin</em>&#8216;nya Warsidi (Lampung), <em>Syi&#8217;ah</em>, <em>Baha&#8217;i</em>,         &#8220;<em>Inkarus Sunnah</em>&#8220;, <em>Darul Arqam</em> (Malaysia), <em>Jamaah         Imran</em>, gerakan <em>Usroh</em>, aliran-aliran tasawwuf berfaham <em>wahdatul         wujud</em>, <em>Tarekat Mufarridiyah</em>, dan gerakan <em>Bantaqiyah</em> (Aceh).         Serangkaian aliran dan kelompok ini, kelihatannya, sangat beranekaragam.         Apakah ada kesamaan antara semua gerakan ini? Dan apa faktor-faktor yang         menyebabkan munculnya gerakan-gerakan tersebut? Tanpa pretensi         memberikan jawaban tuntas atas pertanyaan ini, makalah ini berusaha         menyoroti gerakan sempalan dari sudut pandang sosiologi agama.</span><a name="_ftnref2" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn2"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[2]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;"><strong>Gerakan         sempalan: ada definisinya?</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Berbicara         tentang &#8220;gerakan sempalan&#8221; berarti bertolak dari suatu         pengertian tentang &#8220;ortodoksi&#8221; atau &#8220;mainstream&#8221; (aliran         induk); karena gerakan sempalan adalah gerakan yang menyimpang atau         memisahkan diri dari ortodoksi yang berlaku. </span><span style="font-family:&quot;">Tanpa         tolok ukur ortodoksi, istilah &#8220;sempalan&#8221; tidak ada artinya.         Untuk menentukan mana yang &#8220;sempalan&#8221;, kita pertama-tama harus         mendefinisikan &#8220;mainstream&#8221; yang ortodoks. Dalam kasus ummat         Islam Indonesia masa kini, ortodoksi barangkali boleh dianggap diwakili         oleh badan-badan ulama yang berwibawa seperti terutama MUI, kemudian <em>Majelis         Tarjih</em> Muhammadiyah, <em>Syuriah</em> NU, dan sebagainya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Istilah &#8220;gerakan sempalan&#8221; memang lazim dipakai, secara         normatif, untuk aliran agama yang oleh lembaga-lembaga tersebut dianggap         sesat dan membahayakan. </span><span style="font-family:&quot;">Akan         tetapi, definisi ini menimbulkan berbagai kesulitan untuk kajian         selanjutnya. Misalnya, apakah Ahmadiyah Qadian atau Islam Jamaah baru         merupakan gerakan sempalan setelah ada fatwa yang melarangnya? Atau,         meminjam contoh dari negara tetangga, berbagai aliran agama yang pernah         dilarang oleh Jabatan Agama pemerintah pusat Malaysia, tetap dianggap         sah saja oleh Majelis-Majelis Ugama Islam di negara-negara bagiannya. </span><span style="font-family:&quot;">Bagaimana         kita bisa memastikan apakah aliran tersebut termasuk yang sempalan?         Ortodoksi, kelihatannya, adalah sesuatu yang bisa berubah menurut zaman         dan tempat, dan yang &#8220;sempalan&#8221;  pun bersifat kontekstual.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span><span style="font-family:&quot;">Pengamatan         terakhir ini boleh jadi menjengkelkan. </span><span style="font-family:&quot;">Dari         sudut pandangan orang Islam yang &#8220;concerned&#8221;, yang sesat         adalah sesat, apakah ada fatwanya atau tidak. Dalam visi ini, <em>Ahlus         Sunnah wal Jama&#8217;ah</em> merupakan &#8220;mainstream&#8221; Islam yang         ortodoks, dan yang menyimpang darinya adalah sempalan dan sesat. </span><span style="font-family:&quot;">Kesulitan         dengan visi ini menjadi jelas kalau kita menengok awal abad ke-20 ini,         ketika terjadi konflik besar antara kalangan Islam modernis dan kalangan         &#8220;tradisionalis&#8221;. Dari sudut pandangan ulama tradisional, yang         memang menganggap diri mewakili <em>Ahlus Sunnah wal Jama&#8217;ah</em>, kaum         modernis adalah sempalan dan sesat, sedangkan para modernis justeru         menuduh lawannya menyimpang dari jalan yang lurus.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Kalau kita mencari kriteria yang obyektif untuk mendefinisikan dan         memahami gerakan sempalan, kita sebaiknya mengambil jarak dari         perdebatan mengenai kebenaran dan kesesatan. Gerakan sempalan tentu saja         juga menganggap diri lebih benar daripada lawannya; biasanya mereka         justeru merasa lebih yakin akan kebenaran faham atau pendirian mereka.         Karena itu, kriteria yang akan saya gunakan adalah kriteria sosiologis,         bukan teologis. Gerakan sempalan yang tipikal adalah kelompok atau         gerakan yang <em>sengaja memisahkan diri</em> dari &#8220;mainstream&#8221;         umat, mereka yang cenderung <em>eksklusif</em> dan seringkali <em>kritis         terhadap para ulama yang mapan</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Dalam pendekatan sosiologis ini, &#8220;ortodoksi&#8221; dan &#8220;sempalan&#8221;         bukan konsep yang mutlak dan abadi, namun relatif dan dinamis. Ortodoksi         atau mainstream adalah faham yang dianut mayoritas umat &#8212; atau lebih         tepat, mayoritas ulama; dan lebih tepat lagi, golongan ulama yang         dominan. Sebagaimana diketahui, sepanjang sejarah Islam telah terjadi         berbagai pergeseran dalam faham dominan &#8211; pergeseran yang tidak lepas         dari situasi politik. Dalam banyak hal, ortodoksi adalah faham yang         didukung oleh penguasa, sedangkan faham yang tidak disetujui dicap sesat;         gerakan sempalan seringkali merupakan penolakan faham dominan dan         sekaligus merupakan  protes sosial atau politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Faham aqidah Asy&#8217;ari, yang sekarang merupakan ortodoksi, pada masa &#8216;Abbasiyah         pernah dianggap sesat, ketika ulama Mu&#8217;tazili (yang waktu itu didukung         oleh penguasa) merupakan golongan yang dominan. Jadi, faham yang         sekarang dipandang sebagai ortodoksi juga pernah merupakan sejenis         &#8220;gerakan sempalan&#8221;. Bahwa akhirnya faham Asy&#8217;ari-lah yang         menang, juga tidak lepas dari faktor politik. Kasus ini mungkin bukan         contoh yang terbaik &#8212; golongan Asy&#8217;ari tidak dengan sengaja memisahkan         diri dari sebuah &#8220;mainstream&#8221; yang sudah mapan; faham yang         mereka anut berkembang dalam dialog terus-menerus dengan para lawannya.         Contoh yang lebih tepat adalah gerakan Islam reformis Indonesia pada         awal abad ini (seperti <em>Al Irsyad</em> dan <em>Muhammadiyah</em>) yang         dengan tegas menentang &#8220;ortodoksi&#8221; tradisional yang dianut         mayoritas ulama, dan dari sudut itu merupakan gerakan sempalan. Sejak         kapan mereka tidak bisa lagi dianggap gerakan sempalan dan menjadi         bagian dari ortodoksi? Di bawah ini akan dibahas beberapa faktor yang         mungkin berperan dalam proses perkembangan suatu <em>sekte</em> menjadi <em>denominasi</em>.         Untuk sementara, dapat dipastikan bahwa penganut gerakan reformis pada         umumnya tidak berasal dari kalangan sosial yang marginal, namun justru         dari orang Islam kota yang sedang naik posisi ekonomi dan status         sosialnya, dan bahwa dalam perkembangan sejarah telah terjadi proses         akomodasi, saling menerima, antara kalangan reformis dan tradisional.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Apakah di antara &#8220;gerakan sempalan&#8221; masa kini ada juga yang         berpotensi menjadi &#8220;ortodoksi&#8221; di masa depan? Tidak satu orang         pun yang akan meramal bahwa aliran seperti Bantaqiyah bisa meraih banyak         penganut di Indonesia. Perbandingan antara gerakan reformis, apalagi         madzhab aqidah Asy&#8217;ari, dan gerakan sempalan yang disebut di atas,         terasa sangat tidak tepat. </span><span style="font-family:&quot;">Orang         Islam pada umumnya merasa (kecuali para penganut gerakan tersebut,         barangkali), bahwa mereka secara fundamental berbeda. Tetapi &#8230; apa         sebetulnya perbedaan ini, selain perasaan orang bahwa yang pertama         mengandung kebenaran, sedangkan yang terakhir adalah sesat? Padahal,         aliran tersebut menganggap dirinya sebagai pihak  yang benar,         semntara yang lain sesat! Sejauhmana penilaian kita obyektif dalam hal         ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Memang di antara gerakan sempalan tadi terdapat aliran yang kelihatannya         punya dasar ilmu agama yang sangat tipis. Penganut aliran itu biasanya         juga orang yang marginal secara sosial dan ekonomi, dan berpendidikan         rendah. Tetapi tidak semua gerakan sempalan demikian. Baik dalam <em>Islam         Jama&#8217;ah</em> maupun gerakan <em>Syi&#8217;ah </em>Indonesia, malahan juga dalam <em>Ahmadiyah</em> dan gerakan <em>tasawwuf wahdatul wujud </em>terdapat pemikir yang         memiliki pengetahuan agama yang cukup tinggi dan  pandai         mempertahankan faham mereka dalam debat. Mereka sanggup menemukan <em>nash</em> untuk menangkis semua tuduhan kesesatan terhadap mereka, dan tidak         pernah kalah dalam perdebatan dengan ulama yang &#8220;ortodoks&#8221; &#8212;         sekurang-kurangnya dalam pandangan mereka sendiri dan         penganut-penganutnya. Mereka dapat dianggap &#8220;sempalan&#8221; karena         mereka merupakan minoritas yang secara sengaja memisahkan diri dari         mayoritas ummat. Sebagai fenomena sosial, tidak terlihat perbedaan         fundamental antara mereka dengan, misalnya, Al Irsyad pada masa         berdirinya. Dan perlu kita catat bahwa di Iran pun, <em>Syi&#8217;ah</em> berhasil menggantikan <em>Ahlus Sunnah</em> sebagai faham dominan baru         kira-kira lima abad belakangan!</span><a name="_ftnref3" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn3"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[3]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span><span style="font-family:&quot;">Lalu,         bagaimana dengan <em>Darul Islam</em> dan gerakan <em>Usroh</em>? Keduanya         dapat dianggap gerakan sempalan juga, baik dalam arti bahwa mereka tidak         dibenarkan oleh lembaga-lembaga agama resmi maupun dalam arti bahwa         mereka memisahkan diri dari mayoritas. Namun saya tidak pernah mendengar         kritik mendasar terhadap aqidah dan ibadah mereka. </span><span style="font-family:&quot;">Yang         dianggap sesat oleh mayoritas umat adalah amal <em>politik </em>mereka.         Seandainya pada tahun 1950-an bukan Republik yang menang tetapi <em>Negara         Islam Indonesia</em>&#8216;nya Kartosuwiryo, merekalah yang menentukan         ortodoksi dan membentuk &#8220;mainstream&#8221; Islam. Seandainya itu         yang terjadi, tidak mustahil sebagian &#8220;mainstream&#8221; Islam         sekarang inilah yang mereka anggap sebagai &#8220;sempalan&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;">Klasifikasi         gerakan sempalan</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Untuk         menganalisa fenomena gerakan sempalan secara lebih jernih, mungkin ada         baiknya kalau kita merujuk kepada kajian sosiologi agama yang sudah ada         untuk melihat apakah ada temuan yang relevan untuk situasi Indonesia.         Hanya saja, karena sosiologi agama adalah salah satu disiplin ilmu yang         lahir dan dikembangkan di dunia Barat, sasaran kajiannya lebih sering         terdiri dari umat Kristen ketimbang penganut agama-agama lainnya. Oleh         karena, itu belum tentu <em>a priori</em> temuannya benar-benar relevan         untuk dunia Islam. Beberapa konsep dasar yang dipakai barangkali sangat         tergantung pada konteks budaya Barat. Mengingat keterbatasan ini,         biarlah kita melihat apa saja telah ditemukan mengenai muncul dan         berkembangnya gerakan sempalan pada waktu dan tempat yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> </span><span style="font-family:&quot;">Dua         sosiolog agama Jerman mempunyai pengaruh besar terhadap studi mengenai <em>sekte</em> selama abad ini, mereka adalah Max Weber dan Ernst Troeltsch. Weber         terkenal dengan tesisnya mengenai peranan sekte-sekte protestan dalam         perkembangan <em>semangat kapitalisme</em> di Eropa, dan dengan teorinya         mengenai <em>kepemimpinan karismatik</em>. Troeltsch, teman dekat Weber,         mengembangkan beberapa ide Weber dalam studinya mengenai munculnya         gerakan sempalan di Eropa pada abad pertengahan.</span><a name="_ftnref4" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn4"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[4]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Troeltsch memulai analisanya dengan membedakan dua jenis wadah um</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">at         beragama yang secara konseptual merupakan dua kubu bertentangan, yaitu <em>tipe         gereja</em> dan <em>tipe sekte</em>. Contoh paling murni dari tipe gereja         barangkali adalah Gereja Katolik abad pertengahan, tetapi setiap         ortodoksi (dalam arti sosiologis tadi) yang mapan mempunyai aspek tipe         gereja. Organisasi- organisasi tipe gereja biasanya berusaha mencakup         dan mendominasi seluruh masyarakat dan segala aspek kehidupan. Sebagai         wadah yang <em>established</em> (mapan), mereka cenderung konservatif,         formalistik, dan berkompromi dengan penguasa serta elit politik dan         ekonomi. Di dalamnya terdapat hierarki yang ketat, dan ada golongan         ulama yang mengklaim monopoli akan ilmu dan karamah, orang awam         tergantung kepada mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tipe sekte, sebaliknya, selalu lebih kecil dan hubungan antara sesama         anggotanya biasanya egaliter. Berbeda dengan tipe gereja, keanggotaannya         bersifat sukarela: orang tidak dilahirkan dalam lingkungan sekte, tetapi         masuk atas kehendak sendiri. Sekte-sekte biasanya berpegang lebih keras         (atau kaku) kepada prinsip, menuntut ketaatan kepada nilai moral yang         ketat, dan mengambil jarak dari penguasa dan dari kenikmatan material.         Sekte-sekte biasanya mengklaim bahwa ajarannya lebih <em>murni</em>, lebih         konsisten dengan wahyu Ilahi. Mereka cenderung membuat pembedaan tajam         antara para penganutnya yang suci dengan orang luar yang awam dan penuh         kekurangan serta dosa. Seringkali, kata Troeltsch, sekte- sekte muncul         pertama-tama di kalangan yang berpendapatan dan pendidikan rendah, dan         baru kemudian meluas ke kalangan lainnya. Mereka sering cenderung         memisahkan diri secara fisik dari masyarakat sekitarnya, dan menolak         budaya dan ilmu pengetahuan sekuler.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Selain sekte, Troeltsch menyoroti suatu jenis gerakan lagi yang muncul         sebagai oposisi terhadap gereja (atau ortodoksi yang lain), yaitu         gerakan <em>mistisisme</em> (<em>tasawwuf</em>). Sementara sekte memisahkan         diri dari gereja karena mereka menganggap gereja telah kehilangan         semangat aslinya dan terlalu berkompromi, gerakan- gerakan mistisisme         merupakan reaksi terhadap formalitas dan &#8220;kekeringan&#8221; gereja.         Gerakan <em>mistisisme</em>, menurut Troeltsch, memusatkan perhatian         kepada penghayatan ruhani-individual, terlepas dari sikapnya terhadap         masyarakat sekitar. (Oleh karena itu, Troeltsch juga memakai istilah         &#8220;individualisme religius&#8221;). Penganutnya bisa saja dari         kalangan <em>establishment</em>, bisa juga dari kalangan yang tak setuju         dengan tatanan masyarakat yang berlaku. Mereka biasanya kurang tertarik         kepada ajaran agama yang formal, apalagi kepada lembaga-lembaga agama (gereja,         dan sebagainya). Yang dipentingkan mereka adalah hubungan langsung         antara individu dan Tuhan (atau alam gaib pada umumnya).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Analisa         Troeltsch ini berdasarkan pengetahuannya tentang sejarah gereja di Eropa,         dan tidak bisa diterapkan begitu saja atas budaya lain. Organisasi         &#8220;tipe gereja&#8221; tidak terdapat dalam setiap masyarakat, tetapi         tanpa kehadiran suatu gereja pun sekte bisa saja muncul. Ketika tadi         saya bertanya &#8220;gerakan sempalan itu menyempal dari apa?&#8221;, saya         sebetulnya mencari apakah ada sesuatu wadah umat yang punya ciri <em>tipe         gereja</em>, dalam terminologi Troeltsch. Ortodoksi Islam Indonesia         seperti diwakili oleh MUI dan sebagainya, tentu saja tidak sama dengan         Gereja Katolik abad pertengahan; ia tidak mempunyai kekuasaan atas         kehidupan pribadi orang seperti gereja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Situasi di Amerika Serikat masa kini, sebetulnya, sama saja.         Hampir-hampir tidak ada wadah tipe gereja versi Troeltsch, yang begitu         dominan terhadap seluruh masyarakat. Yang ada adalah sejumlah besar         gereja-gereja Protestan (sering disebut <em>denominasi</em>), yang berbeda         satu dengan lainnya dalam beberapa detail saja, dan tidak ada di         antaranya yang dominan terhadap yang lain. Denominasi-denominasi         Protestan ini mempunyai baik ciri <em>tipe sekte</em> maupun ciri <em>tipe         gereja</em>. Gerakan mistisisme, seperti yang digambarkan Troeltsch,         beberapa dasawarsa terakhir ini sangat berkembang di dunia Barat dengan         mundurnya pengaruh gereja. Para penganutnya seringkali dari kalangan         yang relatif berada dan berpendidikan tinggi, bukan dari lapisan         masyarakat yang terbelakang.</span><a name="_ftnref5" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn5"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[5]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Kajian         berikut yang sangat berpengaruh adalah studi Richard Niebuhr, sosiolog         agama dari Amerika Serikat, mengenai dinamika sekte dan lahirnya <em>denominasi</em>.</span><a name="_ftnref6" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn6"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[6]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Teori yang diuraikan dalam karya ini sebetulnya agak mirip teori sejarah         Ibnu Khaldun. Niebuhr melihat bahwa banyak sekte, yang pertama-tama         lahir sebagai gerakan protes terhadap konservatisme dan kekakuan gereja         (dan seringkali juga terhadap negara), lambat laun menjadi lebih lunak,         mapan, terorganisir rapih dan semakin formalistik. Setelah dua-tiga         generasi, aspek kesukarelaan sudah mulai menghilang, semakin banyak         anggota yang telah lahir dalam lingkungan sekte sendiri. Semua anggota         sudah tidak sama lagi, bibit-bibit hierarki internal telah ditanam,         kalangan pendeta- pendeta muncul, yang mulai mengklaim bahwa orang awam         memerlukan jasa mereka. Dengan demikian bekas sekte itu sudah mulai         menjadi semacam gereja sendiri, salah satu di antara sekian banyak         denominasi. Dan lahirlah, sebagai reaksi, gerakan sempalan baru, yang         berusaha menghidupkan semangat asli&#8230; dan lambat laun berkembang         menjadi denominasi&#8230; dan demikianlah seterusnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Teori Niebuhr ini sekarang dianggap terlalu skematis; sekte- sekte tidak         selalu menjadi denominasi. Niebuhr bertolak dari pengamatannya terhadap         situasi Amerika Serikat yang sangat unik; semua gereja di sana memang         merupakan denominasi yang pernah mulai sebagai gerakan sempalan dari         denominasi lain. Siklus perkembangan yang begitu jelas, agaknya,         berkaitan dengan kenyataan bahwa masyarakat Amerika Serikat terdiri dari         para immigran, yang telah datang gelombang demi gelombang. Setiap         gelombang pendatang baru menjadi lapisan sosial paling bawah; dengan         datangnya gelombang pendatang berikut, status sosial mereka mulai naik.         Pendatang baru yang miskin seringkali menganut sekte-sekte radikal;         dengan kenaikan status mereka sekte itu lambat laun menghilangkan         radikalismenya dan menjadi sebuah denominasi baru.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tigapuluh tahun sesudah Niebuhr, sosiolog Amerika yang lain, Milton         Yinger, merumuskan kesimpulan dari perdebatan mengenai sekte dan         denominasi, bahwa sekte yang lahir sebagai protes sosial cenderung untuk         bertahan sebagai sekte, tetap terpisah dari mainstream, sedangkan sekte         yang lebih menitikberatkan permasalahan moral pribadi cenderung untuk         menjadi denominasi. Itu tentu berkaitan dengan dasar sosial kedua jenis         sekte ini &#8211; sekte radikal cenderung untuk merekrut anggotanya dari         lapisan miskin dan tertindas. Dengan demikian hubungan sekte ini dengan         negara dan denominasi yang mapan akan tetap tegang. Jenis sekte yang         kedua lebih cenderung untuk menarik penganut dari kalangan menengah, dan         akan lebih mudah berakomodasi dengan, dan diterima dalam, <em>status quo</em>.</span><a name="_ftnref7" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn7"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[7]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Pengamatan ini, agaknya, relevan untuk memahami perbedaan antara Al         Irsyad atau Muhammadiyah di satu sisi dan sebagian besar gerakan         sempalan masa kini di sisi lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Klasifikasi         sekte dalam beberapa jenis dengan sikap dan dinamika masing-masing         dikembangkan lebih lanjut oleh seorang sosiolog Inggeris, Bryan Wilson.         Ia berusaha membuat tipologi yang tidak terlalu tergantung kepada         konteks budaya Kristen Barat. Tipologi ini disusun berdasarkan sikap         sekte-sekte terhadap dunia sekitar.</span><a name="_ftnref8" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn8"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[8]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Wilson melukiskan tujuh <em>tipe ideal</em> (model murni) sekte.         Sekte-sekte yang nyata biasanya berbeda daripada tipe-tipe ideal ini,         yang hanya merupakan model untuk analisa. Dalam kenyataannya, suatu         sekte bisa mempunyai ciri dari lebih dari satu tipe ideal. </span><span style="font-family:&quot;">Tetapi         hampir semua tipe ideal Wilson terwakili oleh gerakan sempalan yang         terdapat di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tipe pertama adalah sekte <em>conversionist</em>, yang perhatiannya         terutama kepada perbaikan moral individu. Harapannya agar dunia akan         diperbaiki kalau moral individu-individu diperbaiki, dan kegiatan utama         sekte ini adalah usaha untuk meng-<em>convert</em>, men- <em>tobat</em>-kan         orang luar. Contoh tipikal di dunia Barat adalah Bala Keselamatan; di         dunia Islam, gerakan dakwah seperti <em>Tablighi Jamaat</em> mirip tipe         sekte ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tipe kedua, sekte <em>revolusioner</em>, sebaliknya mengharapkan perubahan         masyarakat secara radikal, sehingga manusianya menjadi baik. Gerakan         messianistik (yang menunggu atau mempersiapkan kedatangan seorang <em>Messias</em>,         <em>Mahdi</em>, <em>Ratu Adil</em>) dan <em>millenarian</em> (yang         mengharapkan meletusnya zaman emas) merupakan contoh tipikal. </span><span style="font-family:&quot;">Gerakan         ini secara implisit merupakan kritik sosial dan politik terhadap <em>status         quo</em>, yang dikaitkan dengan <em>Dajjal</em>, <em>Zaman Edan</em> dan         sebagainya. Gerakan messianistik, seperti diketahui, banyak terjadi di         Indonesia pada zaman kolonial &#8212; dan memang ada sarjana yang menganggap         bahwa gerakan jenis ini hanya muncul sebagai reaksi terhadap kontak         antara dua budaya yang tidak seimbang.</span><a name="_ftnref9" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn9"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[9]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Kalau harapan eskatologis tetap tidak terpenuhi, suatu gerakan yang         semula revolusioner akan cenderung untuk tidak lagi bekerja untuk         transformasi dunia sekitar tetapi hanya memusatkan diri kepada         kelompoknya sendiri atau keselamatan ruhani penganutnya sendiri &#8211;         semacam <em>uzlah</em> kolektif. Mereka mencari kesucian diri sendiri         tanpa mempedulikan masyarakat luas. Wilson menyebut gerakan tipe ini <em>introversionis</em>.         Gerakan <em>Samin</em> di Jawa merupakan kasus tipikal gerakan mesianistik         yang telah menjadi introversionis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tipe keempat, yang dinamakan Wilson <em>manipulationist</em> atau <em>gnostic</em> (&#8220;ber-ma&#8217;rifat&#8221;) mirip sekte introversionis dalam hal         ketidakpeduliannya terhadap keselamatan dunia sekitar. Yang membedakan         adalah klaim bahwa mereka memiliki ilmu khusus, yang biasanya         dirahasiakan dari orang luar. Untuk menjadi anggota aliran seperti ini,         orang perlu melalui suatu proses <em>inisiasi</em> (<em>tapabrata</em>) yang         panjang dan bertahap. Tipe ini biasanya menerima saja nilai-nilai         masyarakat luas dan tidak mempunyai tujuan yang lain. Klaim mereka hanya         bahwa mereka memiliki metode yang lebih baik untuk mencapai tujuan itu. <em>Theosofie</em> dan <em>Christian Science </em>merupakan dua contoh jenis sekte ini di         dunia Barat. Di Indonesia, ada banyak aliran kebatinan yang barangkali         layak dikelompokkan dalam kategori ini; demikian juga kebanyakan tarekat,         yang mempunyai amalan-amalan khusus dan sistem bai&#8217;at.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tipe lainnya adalah sekte-sekte <em>thaumaturgical</em>, yaitu yang         berdasarkan sistem pengobatan, pengembangan tenaga dalam atau penguasaan         atas alam gaib. Pengobatan secara batin, kekebalan, kesaktian, dan         kekuatan &#8220;paranormal&#8221; lainnya merupakan daya tarik         aliran-aliran jenis ini, dan membuat para anggotanya yakin akan         kebenarannya. </span><span style="font-family:&quot;">Di         Indonesia, unsur-unsur thaumaturgical terlihat dalam berbagai aliran         kebatinan dan sekte Islam, seperti <em>Muslimin-Muslimat</em> (di Jawa         Barat).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tipe ke-enam adalah sekte <em>reformis</em>, gerakan yang melihat usaha         reformasi sosial dan/atau amal baik (karitatif) sebagai kewajiban         esensial agama. Aqidah dan ibadah tanpa pekerjaan sosial dianggap tidak         cukup. Yang membedakan sekte-sekte ini dari ortodoksi bukan aqidah atau         ibadahnya dalam arti sempit, tetapi penekanannya kepada konsistensi         dengan ajaran agama yang murni (termasuk yang bersifat sosial).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Gerakan <em>utopian</em>, tipe ketujuh, berusaha menciptakan suatu         komunitas ideal di samping, dan sebagai teladan untuk, masyarakat luas.         Mereka menolak tatanan masyarakat yang ada dan menawarkan suatu         alternatif, tetapi tidak mempunyai aspirasi mentransformasi seluruh         masyarakat melalui proses revolusi. </span><span style="font-family:&quot;">Tetapi         mereka lebih aktivis daripada sekte introversionis; mereka berdakwah         melalui contoh teladan komunitas mereka. Komunitas utopian mereka         seringkali merupakan usaha untuk menghidupkan kembali komunitas umat         yang asli (komunitas Kristen yang pertama, jami&#8217;ah Madinah), dengan         segala tatanan sosialnya. Di Indonesia, kelompok Isa Bugis (dulu di         Sukabumi, sekarang di Lampung) merupakan salah satu contohnya, <em>Darul         Arqam</em> Malaysia dengan &#8220;Islamic Village&#8221;nya di Sungai         Penchala adalah contoh yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;">Gerakan         sempalan Islam di Indonesia dan tipologi sekte</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Dalam         tipologi sekte di atas ini, Wilson sudah menggambarkan suatu spektrum         aliran agama yang lebih luas daripada spekrum gerakan sempalan Indonesia         yang disebut di atas. Meski demikian, beberapa gerakan di Indonesia agak         sulit diletakkan dalam tipologi ini. Kriteria yang dipakai Wilson adalah         sikap sekte terhadap dunia sekitar, namun terdapat berbagai gerakan di         Indonesia yang tidak mempunyai sikap sosial tertentu dan hanya          membedakan diri dari &#8220;ortodoksi&#8221; dengan ajaran atau amalan         yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Satu tipe terdiri dari aliran-aliran kebatinan atau tarekat dengan         ajaran yang &#8220;aneh&#8221;, yang masih sering muncul di hampir setiap         daerah. Sebagian aliran ini memang mirip sekte <em>gnostic</em>, dengan         sistem <em>bai&#8217;at</em>, hierarki internal dan inisiasi bertahap dalam         &#8220;ilmu&#8221; rahasia, sebagian juga memiliki aspek <em>thaumaturgical</em>,         dengan menekankan pengobatan dan kesaktian, tetapi aspek thaumaturgical         jarang menjadi intisari aliran tersebut seperti dalam gerakan pengobatan         ruhani di Amerika Serikat.</span><a name="_ftnref10" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn10"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[10]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Sebagian besar tidak mempunyai ciri sosial yang menonjol, tidak ada         penolakan terhadap norma-norma masyarakat luas. Mereka tidak         mementingkan aspek sosial dan politik dari ajaran agama, melainkan         kesejahteraan ruhani, ketentraman dan/atau kekuatan gaib individu.         Penganutnya bisa berasal dari hampir semua lapisan masyarakat, tetapi         yang banyak adalah orang yang termarginalisir oleh perubahan sosial dan         ekonomi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Suatu jenis lain terdiri dari gerakan <em>pemurni</em>, yang sangat         menonjol dalam sejarah Islam: gerakan yang mencari inti yang paling asli         dari agamanya, dan melawan segala hal (ajaran maupun amalan) yang         dianggap tidak asli. Beberapa gerakan pemurni sekaligus adalah gerakan         reform sosial, seperti Muhammadiyah, tetapi tidak semuanya berusaha         mengubah masyarakat. </span><span style="font-family:&quot;">Gerakan         pemurni yang paling tegas di Indonesia, agaknya, <em>Persatuan Islam</em> (<em>Persis</em>). Dalam konteks ini perlu kita sebut kelompok yang         dikenal dengan nama <em>Inkarus Sunnah</em>, karena mereka juga mengklaim         ingin mempertahankan hanya sumber Islam yang paling asli saja. Seperti         diketahui, mereka kurang yakin akan keasliannya hadits, dan menganggap         hanya Qur&#8217;an saja sebagai sumber asli. Oleh karena itu, nama yang mereka         sendiri pakai adalah <em>Islam Qur&#8217;ani</em>. Namun dalam kasus terakhir         ini, saya tidak yakin apakah mereka layak disebut gerakan sempalan;         mereka tidak cenderung untuk memisahkan diri dari ummat lainnya, dan         saya belum jelas apakah mereka merupakan gerakan terorganisir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Gerakan         <em>Islam Jama&#8217;ah</em> alias <em>Darul Hadits</em> juga merupakan suatu         kasus yang tidak begitu mudah digolongkan. Dengan penekanannya kepada         hadits (walaupun yang dipakai, konon, hadits-hadits terpilih saja),         gerakan ini mengingatkan kepada gerakan pemurni (ini mungkin menjelaskan         daya tariknya bagi orang berpendidikan modern). Namun beberapa ciri         jelas membedakannya dari gerakan pemurni atau pembaharu dan membuatnya         mirip sekte <em>manipulationist / gnostic</em>. Dari segi organisasi         internal, <em>Islam Jama&#8217;ah</em> mirip tarekat atau malahan gerakan         militer, dengan bai&#8217;at dan pola kepemimpinan yang otoriter dan         sentralistis (<em>amir</em>). Tidak ada penolakan terhadap nilai-nilai         masyarakat pada umumnya, dan tidak ada cita-cita politik atau sosial         tertentu. </span><span style="font-family:&quot;">Unsur protes tidak terlihat dalam gerakan ini;         mereka hanya sangat eksklusif dan menghindar dari berhubungan dengan         orang luar. Faktor yang juga perlu disebut adalah kepemimpinan <em>karismatik</em>.</span><a name="_ftnref11" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn11"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[11]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Pendiri dan <em>amir</em> pertama, Nur Hasan Ubaidah, dikenal sebagai ahli         ilmu <em>kanuragan</em> dan <em>kadigdayan</em> yang hebat, dan dalam         pandangan orang banyak, itulah yang membuat penganutnya tertarik dan         terikat pada gerakan ini. Penganutnya pada umumnya tidak berasal dari         kalangan bawah tetapi dari kalangan menengah; namun banyak diantara         mereka, agaknya, pernah mengalami krisis moral sebelum masuk gerakan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Dari         segi kepemimpinan, gerakan <em>Darul Arqam</em> di Malaysia (yang sekarang         juga sudah mempunyai cabang di Indonesia) sedikit mirip Islam Jama&#8217;ah;         gerakan ini sangat tergantung kepada pemimpin karismatik, Ustaz Ashaari         Muhammad. Tetapi sikap Darul Arqam terhadap dunia sekitar sangat berbeda:         mereka ingin mengubah masyarakat dan menawarkan model alternatif, yang         dicontohkan dalam &#8220;Islamic Village&#8221; mereka. Dengan kata lain,         inilah suatu gerakan <em>utopian</em>; melalui dakwah aktif mereka terus         mempropagandakan alternatif mereka. Kegiatan sosialnya terbatas pada         kalangan mereka sendiri; selain usaha konversi (<em>dakwah</em>:         memasukkan penganut baru), mereka tidak banyak berhubungan dengan         masyarakat sekitar &#8212; walaupun dalam praktek mereka masih tergantung         pada masyarakat luar untuk pendapatan mereka. Hubungan di dalam kelompok,         antara sesama anggota, hangat dan intensif; kontrol sosial dinatara         mereka juga tinggi. Namun, mereka menjauhkan  diri dari ummat         lainnya, sehingga sering dituduh terlalu eksklusif. Di samping sikap         utopian ini, Darul Arqam juga merupakan gerakan <em>messianis</em>; mereka         meyakini kedatangan <em>Mahdi</em> dalam waktu sangat dekat, dan         mempersiapkan diri untuk peranan di bawah kepemimpinan Mahdi nanti.</span><a name="_ftnref12" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn12"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[12]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Beberapa tahun terakhir ini aspek messianis ini telah menjadi semakin         menonjol; gerakan ini lambat laun bergeser dari utopian menjadi         revolusioner.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Gerakan         yang lebih murni aspek <em>utopian</em>nya adalah yang disebut gerakan <em>Usroh</em> di Indonesia. Saya tidak yakin apakah ini memang suatu gerakan         terorganisir, dengan kepemimpinan dan strategi tertentu. Kesan saya,         gerakan ini adalah suatu <em>trend</em>, suatu pola perkumpulan yang cepat         tersebar, tanpa banyak koordinasi antara sesama <em>usroh</em>. Ini memang         suatu gerakan protes politik (walaupun perhatiannya terutama kepada         urusan agama dalam arti sempit, tidak kepada isu- isu politik umum).         Namun mereka tidak berharap mengubah tatanan masyarakat atau sistem         politik secara langsung; para <em>usroh</em> (&#8220;keluarga&#8221;)         merupakan komunitas yang menganggap diri mereka sebagai alternatif yang         lebih <em>Islami</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> <em>Ahmadiyah</em> (Qadian), <em>Baha&#8217;i</em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">Syi&#8217;ah</span></em> tidak lahir  dari         rahim kalangan umat Islam Indonesia sendiri, tetapi &#8220;diimport&#8221;         dari luar negeri ketika sudah mapan. </span><span style="font-family:&quot;">Ketiganya         merupakan faham agama yang sudah lama berdiri di negara lain sebelum         masuknya ke Indonesia. Pada masa awalnya, ketiganya mempunyai aspek <em>messianis</em>,         namun kemudian berubah menjadi introversionis, tanpa sama sekali         menghilangkan semangat awalnya. Pemimpin karismatik aslinya (Ghulam         Ahmad, Baha&#8217;ullah, Duabelas Imam) tetap merupakan titik fokus         penghormatan dan cinta yang luar biasa. Dalam <em>Syi&#8217;ah</em>, semangat         revolusioner kadang-kadang tumbuh lagi (seperti terakhir terlihat di         Iran sejak 1977), dan itulah agaknya yang merupakan daya tarik utama         faham <em>Syi&#8217;ah</em> bagi para pengagumnya di Indonesia. Sedangkan <em>Ahmadiyah</em> telah menampilkan diri (di India- Pakistan dan juga di Indonesia)         terutama sebagai sekte <em>reformis</em>,</span><a name="_ftnref13" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn13"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[13]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> yang belakangan menjadi sangat introversionis dan menghindar dari         kegiatan di luar kalangan mereka sendiri. Walaupun sekte Baha&#8217;i juga         mempunyai beberapa penganut di Indonesia, mereka rupanya tidak berasal         dari kalangan Islam, sehingga Baha&#8217;i di sini tidak dapat dianggap         sebagai gerakan sempalan Islam (seperti halnya di negara aslinya, Iran).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Tiga gerakan ini memain peranan sangat berlainan di Indonesia, dan         meraih penganut dari kalangan yang berbeda. Gerakan Syi&#8217;ah adalah yang         paling dinamis. Ia mulai sebagai gerakan protes, baik terhadap situasi         politik maupun kepemimpinan ulama Sunni; pelopornya adalah pengagum         revolusi Islam Iran. Kepedulian sosial (perhatian terhadap <em>mustadl&#8217;afin</em>)         dan politik ditekankan. Dalam perkembangan berikut, penekanan kepada         dimensi politik Syi&#8217;ah semakin dikurangi, dan minat kepada tradisi         intelektual Syi&#8217;ah Iran ditingkatkan.</span><a name="_ftnref14" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn14"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[14]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Dengan kata lain, gerakan Syi&#8217;ah Indonesia sudah bukan gerakan sempalan         revolusioner lagi dan cenderung untuk menjadi introversionis. Tetapi         gerakan ini tetap berdialog dan berdebat dengan golongan Sunni, mereka         tidak terisolir. Di antara semua gerakan sempalan masa kini, hanya         gerakan Syi&#8217;ah yang agaknya mempunyai potensi berkembang menjadi suatu <em>denominasi</em>,         di samping gerakan pemurni dan pembaharu yang Sunni.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;"><strong>Gerakan         sempalan: gejala krisis atau sesuatu yang wajar saja?</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Tinjauan         sepintas ini menunjukkan bahwa gerakan sempalan Islam di Indonesia cukup         berbeda satu dengan lainnya. </span><span style="font-family:&quot;">Latar         belakang sosial mereka juga berbeda-beda. Tidak dapat diharapkan bahwa         kemunculannya bisa dijelaskan oleh satu dua faktor penyebab saja. Ada         kecenderungan untuk melihat semua gerakan sempalan sebagai suatu gejala         krisis, akibat sampingan proses modernisasi yang berlangsung cepat dan         pergeseran nilai. Tetapi gerakan-gerakan seperti yang telah digambarkan         di atas bukanlah fenomena yang baru. Prototipe gerakan sempalan dalam         sejarah Islam adalah kasus <em>Khawarij</em>, yang terjadi jauh sebelum         ada modernisasi. </span><span style="font-family:&quot;">Gerakan         <em>messianis</em> juga telah sering terjadi selama sejarah Islam, di         kawasan Timur Tengah maupun Indonesia. Sedangkan tarekat sudah sering         menjadi penggerak atau wadah protes sosial rakyat atau elit lokal antara         1880 dan 1915. Gerakan pemurni yang radikal juga telah sering terjadi,         setidak- tidaknya sejak gerakan <em>Padri</em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Timbulnya segala macam sekte dan aliran &#8220;mistisisme&#8221; juga         bukan sesuatu yang khas untuk negara sedang berkembang. Justeru di         negara yang sangat maju, seperti Amerika Serikat, fenomena ini sangat         menonjol. Jadi, hipotesa bahwa gerakan sempalan di Indonesia timbul         sebagai akibat situasi khusus ummat Islam Indonesia masa kini tidak         dapat dibenarkan. Saya mengira juga, bahwa jumlah aliran baru yang         muncul setiap tahun (sekarang) tidak jauh lebih tinggi ketimbang tiga         dasawarsa yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Yang         dipengaruhi oleh iklim sosial, ekonomi dan politik, agaknya, bukan <em>timbulnya </em>aliran-aliran itu sendiri, tetapi <em>jenis</em> aliran yang banyak         menjaring penganut baru. Periode 1880 sampai 1915, misalnya, merupakan         masa jaya tarekat di Indonesia; pengaruh dan jumlah penganutnya         berkembang cepat. Gerakan atau aliran agama lainnya tidak begitu         menonjol pada masa itu. Tarekat-tarekat telah menjadi wadah         pemberontakan rakyat kecil terhadap penjajah maupun pamong praja pribumi,         tidak karena terdapat sifat revolusioner pada tarekat itu sendiri,         tetapi karena jumlah dan latar belakang sosial penganutnya, karena         struktur organisasinya (vertikal-hierarkis), dan karena aspek &#8220;<em>thaumaturgical</em>&#8220;nya         (kekebalan, kesaktian).</span><a name="_ftnref15" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn15"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[15]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Pada masa berikutnya, sekitar 1915-1930, semua tarekat mengalami         kemerosotan pengaruh karena berkembangnya organisasi modern Islam         bersifat sosial dan politik, terutama Sarekat Islam. Walaupun SI         merupakan organisasi modern dengan pemimpin-pemimpin berpendidikan barat,         cabang-cabang lokalnya ada yang mirip sekte messianis atau tarekat,         khususnya pada masa awalnya. Cokroaminoto kadang-kadang disambut sebagai         ratu adil dan diminta membagikan air suci; ada juga kyai tarekat yang         masuk SI dengan semua penganutnya dan berusaha mempergunakan SI sebagai         wajah formal tarekatnya.</span><a name="_ftnref16" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn16"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[16]</span></sup></a></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Fenomena yang paling menonjol pada masa itu, bahwa banyak aliran agama         menunjukkan <em>aktivisme politik dan sosial</em>. Namun setelah         pemberontakan-pemberontakan 1926 diberantas dan kebijaksanaan pemerintah         Hindia Belanda menjadi lebih repressif (dan setelah pemimpin-pemimpin         nasionalis dibuang), muncullah aliran-aliran agama baru yang <em>introversionis</em>,         yaitu yang berpaling dari aktivitas sosial dan politik kepada         penghayatan agama secara individual, dan yang bersifat mistis (sufistik).         Dasawarsa 1930an melihat lahirnya berbagai aliran kebatinan yang masih         ada sampai sekarang, seperti <em>Pangestu</em> dan <em>Sumarah</em>, dan         juga masuk dan berkembangnya dua tarekat baru, yaitu <em>Tijaniyah</em> dan <em><span style="text-decoration:underline;">Idrisiyah</span></em>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Korelasi antara represi politik dengan timbulnya aliran sufistik yang         introversionis terlihat lebih jelas ketika partai Masyumi dibubarkan.         Neo-tarekat seperti <em>Shiddiqiyah</em>, dan juga <em>Islam Jama&#8217;ah</em> timbul di kalangan bekas penganut Masyumi di Jawa Timur. Di daerah         lainnya juga cukup banyak kasus bekas aktivis Masyumi yang masuk aliran         mistik. Setelah penumpasan PKI, neo- tarekat <em>Shiddiqiyah</em> dan <em>Wahidiyah</em>,         serta tarekat lama <em>Syattariyah</em> di Jawa Timur, mengalami         pertumbuhan pesat dengan masuknya tidak sedikit orang dari kalangan         abangan. </span><span style="font-family:&quot;">Mereka         ketika itu ingin, dengan alasan yang dapat dimengerti, membuktikan         identitasnya sebagai Muslim dan sikap non-politik mereka.</span><a name="_ftnref17" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn17"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[17]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Dan pada lima tahun terakhir ini kita menyaksikan bahwa tarekat dan         aliran mistik lainnya berkembang dengan pesat, dalam semua kalangan         masyarakat &#8211; suatu fenomena yang agaknya berkaitan erat dengan         depolitisasi Islam.</span><a name="_ftnref18" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn18"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[18]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;"><strong>Gerakan         sempalan yang &#8220;radikal&#8221;</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Di         atas, saya lebih banyak menyebut aliran &#8220;introversionis&#8221; dan         mistik daripada aliran yang radikal dan aktivis &#8211; &#8220;sekte&#8221;         dalam arti sempitnya Troeltsch. Pertama-tama karena saya lebih         mengetahui tentang aliran sufistik itu, tetapi juga karena aliran         radikal relatif jarang terjadi di Indonesia, dan jumlah penganutnya,         sejauh penilaian saya, agak kecil. <em>Yang perlu kita tanyakan, mungkin,         bukan kenapa terjadi gerakan sempalan yang radikal di Indonesia, tetapi         kenapa gerakan demikian begitu jarang terjadi</em> (dibandingkan,         misalnya, dengan Amerika Serikat, India ataupun Malaysia).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Dalam beberapa dasawarsa terakhir kita melihat beberapa perubahan dalam         ortodoksi Islam Indonesia, yang dapat ditandai dengan istilah &#8220;akomodasi&#8221;         dan &#8220;depolitisasi&#8221;. Secara teoretis, kita bisa meramalkan         bahwa setiap perubahan dalam ortodoksi akan menimbulkan beberapa reaksi         dalam bentuk gerakan sempalan yang tujuannya berlawanan dengan perubahan         tersebut. Makin dekat ortodoksi kepada establishment politik dan         ekonomis, makin kuat kecenderungan kepada protes sosial dalam bentuk         gerakan sempalan yang radikal, seperti kita bisa lihat dalam sejarah         gereja di Eropa misalnya. Kita juga bisa meramal bahwa penganut gerakan         sempalan itu tidak terutama berasal dari &#8220;mainstream&#8221; kalangan         beragama (katakanlah, yang dibesarkan di keluarga NU atau keluarga         Muhammadiyah, dalam kasus Indonesia), tetapi dari kalangan yang relatif         marginal. Justeru orang yang masih baru berusaha menjalankan ajaran         agama secara utuh, para mukallaf, dan orang berasal dari keluarga yang         sekuler atau abangan yang mencari identitas dirinya dalam Islam.         Kalangan &#8220;santri&#8221;, karena mereka lebih dekat kepada         tokoh-tokoh yang &#8220;ortodoks&#8221;, lebih cenderung mengikuti         perubahan sikap ortodoksi. Mereka juga, agaknya, sudah dibudayakan dalam         tradisi Sunni, yang selalu akomodatif. Sedangkan orang &#8220;baru&#8221;         justeru sering cenderung mencari ajaran yang &#8220;murni&#8221;,         sederhana dan tegas, tanpa memperhatikan situasi dan kondisi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Gejala menonjol dalam beberapa gerakan sempalan yang radikal adalah         latar belakang pendidikan dan pengetahuan agama banyak anggotanya yang         relatif rendah, tetapi diimbangi semangat keagamaan yang tinggi.         Sebagian besar mereka, sejauh pengamatan saya, sangat idealis dan sangat         ingin mengabdi kepada agama dan masyarakat. Mereka adalah orang yang         sadar akan kemiskinan dan korupsi, ketidakadilan dan maksiat di         masyarakat sekitarnya; dalam kehidupan pribadi, banyak dari mereka telah         menghadap kesulitan untuk mendapat pendidikan dan pekerjaan yang baik         dan mengalami banyak frustrasi lainnya. </span><span style="font-family:&quot;">Dan mereka yakin bahwa Islam sangat relevan untuk         masalah-masalah sosial ini. Mereka tahu, yang sering dilontarkan         tokoh-tokoh Islam, bahwa Islam tidak membenarkan sekularisme, bahwa         agama dan masalah sosial dan politik tidak dapat dipisahkan. Tetapi         mereka kecewa melihat bahwa kebanyakan tokoh-tokoh tadi senantiasa siap         berkompromi dalam menghadapi masalah politik dan sosial. Para ulama         tidak memberi penjelasan yang memuaskan tentang sebab-sebab semua         penyakit sosial tadi, apalagi memberikan jalan keluar yang konkrit dan         jelas. Hal-hal yang diceramahkan dan dikhotbahkan oleh kebanyakan ulama         terlalu jauh dari realitas yang dihadapi generasi muda.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Karena adanya jurang komunikasi antara tokoh-tokoh agama dan kalangan         muda yang frustrasi tetapi idealis ini, tokoh-tokoh tadi tidak mampu         menyalurkan aspirasi dan idealisme mereka ke dalam saluran yang lebih         moderat dan produktif. Pemuda-pemuda radikal, di pihak lain, justeru         karena masih dangkalnya pengetahuan agama mereka, menganggap bahwa         seharusnya Islam mempunyai jawaban yang sederhana, jelas dan kongkrit         atas semua permasalahan &#8212; inilah watak khas setiap sekte. Orang yang         bilang bahwa permasalahan tidak sesederhana itu, bahwa dalam sikap Islam         juga ada segala macam pertimbangan, dan bahwa jawaban yang keras dan         tegas belum tentu yang paling benar, dianggap tidak konsisten atau malah         mengkhianati agama yang murni. </span><span style="font-family:&quot;">Tidak         mengherankan kalau kritik dan serangan gerakan  radikal terhadap         ulama &#8220;ortodoks&#8221; kadang-kadang lebih keras daripada terhadap         para koruptor dan penindas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Timbulnya pemahaman agama yang radikal di kalangan muda sebetulnya wajar         saja, dan pada sendirinya bukan sesuatu yang mengkhawatirkan. Umat yang         hanya terdiri dari satu ortodoksi yang monolitik berarti sudah         kehilangan dinamika dan gairah hidup. Dalam sejarah gereja di dunia         Barat, sekte-sekte radikal sering telah berfungsi sebagai hati nurani         ummat, dan hal demikian juga dapat dilihat dalam  sejarah umat         Islam. Gerakan sempalan radikal mendorong ortodoksi untuk setiap saat         memikirkan kembali relevansi ajaran agama dalam masyarakat kontemporer,         dan untuk mencari jawaban atas masalah dan tantangan baru yang         terus-menerus bermunculan. Bahaya baru muncul kalau komunikasi antara         ortodoksi dan gerakan sempalan terputus dan kalau mereka diasingkan.         Karena kurangnya pengalaman hidup dan pengetahuan agama, mereka dengan         sangat mudah bisa saja dimanipulir dan/atau diarahkan kepada kegiatan         yang tidak sesuai dengan kepentingan umat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;"><strong>Gerakan         sempalan sebagai pengganti keluarga</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Sebagai         akibat urbanisasi dan monetarisasi ekonomi, banyak ikatan sosial yang         tradisional semakin longgar atau terputus. </span><span style="font-family:&quot;">Dalam         desa tradisional, setiap orang adalah anggota sebuah <em>komunitas</em> yang cukup intim, dengan kontrol sosial yang ketat tetapi juga dengan         sistem perlindungan dan jaminan sosial. Jaringan keluarga yang luas         melibatkan setiap individu dalam sebuah sistem hak dan kewajiban yang &#8212;         sampai batas tertentu &#8212; menjamin kesejahteraannya. Dalam masyarakat         kota modern, sebaliknya, setiap orang berhubungan dengan jauh lebih         banyak orang lain, tetapi hubungan ini sangat dangkal dan tidak         mengandung tanggungjawab yang berarti. Komunitas, seperti di desa atau         di keluarga besar, sudah tidak ada lagi, dan kehidupan telah menjadi         lebih individualis. Itu berarti bahwa dari satu segi setiap orang lebih         bebas; tetapi dari segi lain, tidak ada lagi perlindungan yang         betul-betul memberikan jaminan. Banyak orang merasa terisolir, dan         merasa bahwa tak ada orang yang betul-betul bisa mereka percayai &#8212;         karena sistem kontrol sosial dengan segala sanksinya sudah tidak ada         lagi, dan karena orang lain juga lebih mengutamakan kepentingan         individual masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Dalam situasi ini, aliran agama sering bisa memenuhi kekosongan yang         telah terjadi karena menghilangnya komunitas keluarga besar dan desa.         Namun untuk dapat berfungsi sebagai komunitas, aliran ini mestinya cukup         kecil jumlah anggotanya, sehingga mereka bisa saling mengenal. Aspek         komunitas dan solidaritas antara sesama anggota diperkuat lagi kalau         aliran ini membedakan diri dengan tajam dari dunia sekitarnya. Inilah,         agaknya, daya tarik aliran yang bersifat <em>eksklusif </em>(yaitu         menghindar dari hubungan dengan umat lainnya) atau <em>gnostic</em> (yang         mengklaim punya ajaran khusus yang tidak dimengerti kaum awam dan         menerapkan sistem bai&#8217;at).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Dalam penelitian saya di sebuah perkampungan miskin di kota Bandung,         saya sempat mengamati bagaimana berbagai aliran agama mempunyai fungsi         psikologis positif yang sangat nyata. Baik tarekat maupun sekte memenuhi         kebutuhan akan komunitas dan memberi perlindungan sosial dan psikologis         kepada anggotanya, sehingga mereka tidak terisolir lagi.         Penganut-penganut aliran ini &#8212; terlepas dari tipe aliran dan ajarannya         &#8211; ternyata lebih mampu mempertahankan harga diri dan nilai-nilai moral         daripada orang lain. Dalam berbagai tarekat dan aliran lain, para         anggota saling memanggil &#8220;<em>ikhwan</em>&#8220;, dan itu bukan         sebutan simbolis belaka; mereka memang sering bertindak sebagai saudara         sesama anggota. Pergaulan dan komunikasi antara para ikhwan tidak         terbatas pada waktu sembahyang atau berdzikir saja; mereka saling         mengunjungi di rumah dan saling menolong, misalnya, mencari pekerjaan.         Di dalam aliran-aliran ini terdapat kontrol sosial yang kuat dan         dorongan kepada konformisme, tetapi juga sistem tolong-menolong yang         menjaminkan keamanan yang dibutuhkan. Walaupun lingkungan mereka         dianggap penuh bahaya, maksiat dan penipuan, kepada sesama ikhwan mereka         bisa saling percaya; di bawah perlindungan tarekat mereka merasa aman         dari ancaman dan tantangan yang mereka alami di dunia sekitar. Ternyata         bukan tarekat dan aliran kebatinan saja, tetapi juga kelompok sangat         non-sufistik seperti jamaah <em>Persis</em> (yang merupakan minoritas         kecil di sana dan berpendirian sektarian) mempunyai fungsi yang sama.</span><a name="_ftnref19" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn19"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[19]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Di suatu lingkungan dimana egoisme, sinisme, curiga-mencurigai, iri hati         dan pemerosoton semua nilai semakin berkembang, anggota aliran tadi bisa         bertahan dan hidup lebih aman dan tenang.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Demikian juga halnya mahasiswa (terutama yang berasal dari kota kecil         atau desa) yang hidup di sebuah lingkungan kota yang serba baru dan aneh         bagi mereka; kelompok-kelompok studi agama dan sebagainya memberikan         perlindungan dan rasa aman, dimana mereka bisa merasa &#8220;at         home&#8221;. Lebih-lebih kalau kelompok itu bisa memberikan mereka sebuah         kerangka analisa masyarakat sekitarnya dan keyakinan bahwa mereka         sebetulnya sebuah minoritas yang lebih baik, murni dan suci, dan         mempunyai misi menyebarkan kemurnian dan kesuciannya. Perasaan minder,         yang sering dialami mahasiswa berlatarbelakang sederhana ketika         berhadapan dengan sebuah lingkungan yang &#8220;canggih&#8221;, mendapat         kompensasi dalam &#8220;keluarga&#8221; baru mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Beberapa gerakan agama di kampus dapat dilihat sebagai gejala konflik         budaya (&#8220;Islam yang konsisten&#8221; melawan &#8220;sekularisme yang         bebas nilai&#8221;) yang tak lepas dari perbedaan status sosial-ekonomis.         Tidak mengherankan kalau di kalangan pemuda/mahasiswa pernah muncul         gerakan sempalan yang bersifat messianis-revolusioner, yang ingin         merombak tatanan masyarakat dan/atau negara (seperti kasus <em>Jama&#8217;ah         Imran</em>). </span><span style="font-family:&quot;">Tapi         itu tidak berarti bahwa semua anggota gerakan tersebut juga punya         aspirasi revolusioner. Dalam kasus <em>Jama&#8217;ah Imran</em> misalnya, saya         mempunyai kesan bahwa sebagian besar pengikutnya, berbeda dengan         kelompok intinya, sebetulnya tidak tertarik kepada aspek revolusioner (atau         subversif)nya.</span><a name="_ftnref20" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftn20"><sup><span style="font-family:&quot;color:#000000;">[20]</span></sup></a><span style="font-family:&quot;"> Mereka pertama-tama masuk Jama&#8217;ah Imran didorong oleh rasa ingin tahu         semata atau karena tertarik kepada ceramah-ceramahnya yang &#8220;pedas&#8221;;         yang kemudian mengikat mereka adalah aspek <em>komunitas</em>nya. Aspek         komunitas ini diperkuat oleh bai&#8217;at dan melalui suasana yang sangat         emosional dalam pengajian, di mana para hadirin sering sampai menangis         &#8212; hal yang juga terjadi dalam banyak tarekat. Jamaah Imran telah         menjadi keluarga baru untuk banyak pemuda dan pemudi, sampai terjadinya         kegiatan kekerasan. Peristiwa Cicendo ternyata menghancurkan suasana         keluarga, dan sebagian besar pengikut segera memutuskan semua hubungan         dengan jamaah; yang tinggal hanya kelompok inti yang kecil saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><em><span style="font-family:&quot;"><strong>Kata         penutup</strong></span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;">Sejauh         yang  sempat saya amati, gerakan sempalan Islam di Indonesia         biasanya tidak muncul di tengah-tengah kalangan umat, tetapi di         pinggirannya. Sebagiannya mungkin bisa dilihat sebagai aspek dari proses         pengislaman yang sudah mulai berlangsung enam atau tujuh abad yang lalu         dan masih terus berlangsung. Sebagian juga (terutama gerakan yang &#8220;radikal&#8221;)         bisa dilihat sebagai &#8220;komentar&#8221; terhadap ortodoksi yang telah         ada, dengan usul koreksi terhadap hal-hal yang dianggapnya kurang         memadai. </span><span style="font-family:&quot;">Selama         dialog antara ortodoksi dan gerakan sempalan masih bisa berlangsung,         fenomena ini mempunyai fungsi positif. Terputusnya komunikasi dan         semakin terasingnya gerakan sempalan tadi mengandung bahaya. Kalau         ortodoksi tidak responsif dan komunikatif lagi dan hanya bereaksi dengan         melarang-larang (atau dengan diam saja), ortodoksi sendiri merupakan         salah satu sebab penyimpangan &#8220;ekstrim&#8221; ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;"><span style="font-family:&quot;"> Terlepas dari hubungan ortodoksi dengan umat &#8220;pinggiran&#8221;,         aliran-aliran agama mempunyai suatu fungsi sosial yang cukup penting         untuk para penganutnya, yaitu sebagai pengganti ikatan keluarga dan         pemberi perlindungan dan keamanan psikologis- spiritual. Peran ini tidak         dapat dimainkan oleh organisasi agama besar, justeru karena yang         diperlukan adalah hubungan intim dalam sebuah komunitas yang terpisah         dari masyarakat/umat yang luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:20.15pt;">
<hr size="1" />
<div id="ftn1">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn1" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref1"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[1]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Istilah ini konon pertama kali dipakai oleh Abdurrahman Wahid sebagai           pengganti kata &#8220;<em>splinter group</em>&#8220;, kata yang tidak           mempunyai konotasi khusus aliran agama, tetapi dipakai untuk kelompok           kecil yang memisahkan diri (menyempal) dari partai atau organisasi           sosial dan politik. Untuk &#8220;<em>splinter group</em>&#8221; yang           merupakan aliran agama, kata &#8220;<em>sekte</em>&#8221; lazim dipakai.</span></p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn2" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref2"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[2]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Artikel ini berdasarkan makalah saya untuk seminar &#8220;Gerakan           Sempalan di Kalangan Ummat Islam Indonesia&#8221;, yang diselenggerakan           oleh Yayasan Kajian Komunikasi Dakwah di Jakarta, 11 Februari 1989,           kemudian diperbaiki dengan masukan dari diskusi dengan para peserta           program S-2 di IAIN Sunan Kalijaga (Yogyakarta) yang ikut kuliah saya           tentang Sosiologi Agama.</span></p>
</div>
<div id="ftn3">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn3" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref3"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[3]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Seperti diketahui, Syi&#8217;ah Itsna&#8217;asyariyah sekarang merupakan <em>ortodoksi</em> di Iran. Namun sampai abad ke-10 hijriyah (abad ke-16 Masehi),           mayoritas penduduk Iran masih menganut madzhab Syafi&#8217;i. Faham ini baru           menjadi dominan  setelah dinasti Safawiyah memproklamirkan Syi&#8217;ah           sebagai agama resmi negara dan mendatangkan ulama Syi&#8217;i dari Irak           Selatan.</span></p>
</div>
<div id="ftn4">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn4" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref4"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[4]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Ernst Troeltsch, <em>The Social Teachings of the Christian Churches</em>.           London, 1931 (aslinya diterbitkan dalam bahasa Jerman pada tahun           1911). Lihat juga pengamatan Weber tentang sekte-sekte protestan di           Amerika Serikat: &#8220;Sekte-sekte protestan dan semangat kapitalisme&#8221;,           dalam Taufik Abdullah, editor, <em>Agama, Etos Kerja dan Perkembangan           Ekonomi</em>, Jakarta: LP3ES, 1979, hal. 41-78.</span></p>
</div>
<div id="ftn5">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn5" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref5"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[5]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Pengamatan tajam dan menarik tentang fenomena sekte dan mistisisme di           Amerika Serikat masa kini (dengan analisa yang bertolak dari tipologi           Troeltsch) terdapat dalam: Robert Bellah dkk, <em>Habits of the Heart:           Individualism and Commitment in American Life</em>. New York: Harper           &amp; Row, 1986, khususnya hal. 243-8.</span></p>
</div>
<div id="ftn6">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn6" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref6"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[6]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> H. Richard Niebuhr, <em>The Social Sources of Denominationalism</em>.           New York: Holt, 1929.</span></p>
</div>
<div id="ftn7">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn7" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref7"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[7]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Lihat: J. Milton Yinger, <em>Religion, Society and the Individual</em>.           New York: MacMillan Co., 1957, khususnya hal. 147-55.</span></p>
</div>
<div id="ftn8">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn8" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref8"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[8]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Salah satu tulisannya, &#8220;Tipologi sekte&#8221;, telah diterjemahkan           dalam bahasa Indonesia dan dimuat dalam: Roland Robertson (ed.), <em>Agama:           dalam Analisa dan Interpretasi Sosiologis</em>. Jakarta: Rajawali,           1988, hal. 431-462. Sayangnya, terjemahannya mengandung banyak           kesalahan sehingga tulisan ini sulit difahami. Untuk lebih lengkap dan           jelas, lihat bukunya <em>Sects and Society</em> (Heinemann / California           University Press, 1961).</span></p>
</div>
<div id="ftn9">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn9" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref9"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[9]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Beberapa tulisan Sartono Kartodirdjo merupakan kajian penting tentang           gerakan millenarian di Indonesia, antara lain &#8220;Agrarian           Radicalism in Java: its Setting and Development&#8221;, dalam: Claire           Holt (ed), <em>Culture and Politics in Indonesia</em>. Ithaca: Cornell           University Press, 1972, hal. 71-125. Teori umum dan beberapa kasus           penting dibahas dalam: Michael Adas, <em>Prophets of Rebellion:           Millenarian Protest Movements against the European Colonial Order</em>.           University of North Carolina Press, 1979 (terjemahan Indonesia: <em>Ratu           Adil: Tokoh dan Gerakan Milenarian Menentang Kolonialisme Eropa</em>.           Jakarta: Rajawali 1988).</span></p>
</div>
<div id="ftn10">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn10" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref10"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[10]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Ada pengamatan menarik bahwa beberapa aliran kebatinan pada zaman           revolusi mengembangkan latihan kesaktian (silat dengan tenaga dalam,           &#8220;ilmu kontak&#8221;, kekebalan dan sebagainya), yang pada masa           kemudian dianggap terlalu kasar dan digantikan dengan latihan kejiwaan           yang lebih halus. Lihat: Paul Stange, <em>The Sumarah Movement in           Javanese Mysticism</em>, Ph.D. thesis, University of Wisconsin,           Madison, 1980, bab 5. Berbagai tarekat juga (terutama Qadiriyah)           menunjukkan aspek <em>thaumaturgical</em> pada masa revolusi, yang           kemudian ditinggalkan lagi.</span></p>
</div>
<div id="ftn11">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn11" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref11"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[11]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Saya memakai istilah <em>karismatik</em> di sini dalam arti asli kata:           baik pemimpin karismatik maupun pengikutnya percaya bahwa ia           dianugerahi <em>karamah</em> atau <em>kesaktian</em>.</span></p>
</div>
<div id="ftn12">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn12" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref12"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[12]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Mereka menganggap almarhum Syeikh Muhammad bin Abdullah Suhaimi (seorang           muslim Jawa di Singapura, mantan guru dari Ustaz Ashaari Muhammad)           sebagai <em>Mahdi</em>. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Walaupun           sudah meninggal dunia, beliau diharapkan akan datang dalam waktu dekat.           Syeikh Suhaimi konon telah bertemu dengan Nabi dalam keadaan jaga, dan           menerima <em>Aurad Muhammadiyah</em>, yang diamalkan Darul Arqam, dari           Beliau. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Lihat: Ustaz Hj. Ashaari Muhammad, <em>Aurad           Muhammadiyah, Pegangan Darul Arqam</em>. Kuala Lumpur: Penerangan Al           Arqam, 1986; juga: Ustaz Ashaari Muhammad, <em>Inilah pandanganku</em>.           Kuala Lumpur: Penerangan Al Arqam, 1988</span></p>
</div>
<div id="ftn13">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn13" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref13"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[13]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Ahmadiyah pernah memainkan peranan penting dalam proses pengislaman (atau           &#8220;pen-<em>santri</em>-an&#8221;) kaum terdidik di Indonesia pada masa           penjajahan. </span><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">Dalam <em>Jong Islamieten Bond</em> dan <em>Sarekat           Islam</em> pengaruhnya sangat berarti. Baru setelah organisasi modernis           lainnya berkembang terus, Ahmadiyah menghilangkan fungsinya sebagai           pelopor reformisme dan rasionalisme dalam Islam. Berkembangnya kritik           semakin keras terhadap faham kenabian Ahmadiyah Qadian bisa dilihat           sebagai simptom konsolidasi ortodoksi Islam di Indonesia.</span></p>
</div>
<div id="ftn14">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn14" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref14"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[14]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Pergeseran ini, antara lain, terlihat dalam urutan terjemahan karya           penulis Syi&#8217;ah: Ali Syari&#8217;ati disusul oleh Murtadha Muthahhari dan           kemudian Baqir Al-Shadr. Khomeini pertama-tama dilihat sebagai           pemimpin revolusi saja, kemudian juga sebagai ahli <em>&#8216;irfan</em> (tasawwuf           dan metafisika). Sekarang diskusi-diskusi lebih sering berkisar           sekitar filsafat atau persoalan <em>&#8216;ishmah</em> (apakah para Imam           Duabelas <em>ma&#8217;shum</em>?) daripada situasi politik Iran.</span></p>
</div>
<div id="ftn15">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn15" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref15"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[15]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Lihat pengamatan tentang peranan tarekat dalam pemberontakan Banten           dalam: Sartono Kartodirdjo, <em>The Peasant&#8217;s Revolt of Banten in 1888</em>.           The Hague: Nijhoff, 1966.</span></p>
</div>
<div id="ftn16">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn16" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref16"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[16]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Lihat, antara lain, laporan tentang konflik antara kyai tarekat yang           memimpin cabang lokal di Madura dengan pengurus pusat, dalam buku <em>Sarekat           Islam Lokal</em> (editor Sartono Kartodirdjo). Jakarta: Arsip Nasional,           1975. Di Jambi, sebuah aliran kekebalan (&#8220;<em>ilmu abang</em>&#8220;)           meniru contoh SI dan menamakan diri Sarekat Abang, dan kemudian           mencoba mengambil over cabang lokal SI. Tentang Cokroaminoto sebagai           &#8220;ratu adil&#8221;, lihat: A.P.E. Korver, <em>Sarekat Islam           1912-1916</em>. Universitas Amsterdam, 1982 (terjemahan Indonesia: <em>Ratu           Adil</em>, Grafiti Pers).</span></p>
</div>
<div id="ftn17">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn17" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref17"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[17]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Untuk pengamatan menarik tentang berkembangnya aliran tersebut, lihat           artikel Moeslim Abdurrahman, &#8220;Sufisme di Kediri&#8221;, dalam <em>Sufisme           di Indonesia </em>[<em>Dialog</em>, edisi khusus, Maret 1978], hal.           23-40.</span></p>
</div>
<div id="ftn18">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn18" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref18"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[18]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Suatu fenomena menarik adalah berkembangnya kecenderungan kepada <em>mistisisme</em> di kalangan menengah di ibukota, seperti dicerminkan dalam majalah <em>Amanah</em>.           Mistisisme kelas menengah ini rupanya jarang terorganisir tetapi           bersifat &#8220;individualisme religius&#8221; (menurut istilah           Troeltsch; bandingkan komentar dalam catatan 5). Majalah tersebut           sering menyoroti &#8220;pengalaman rohani&#8221; tokoh-tokoh terkenal.           Rubrik renungan tasawwuf dalam majalah ini juga cenderung kepada           individualisme, dengan menyinggung hubungan pribadi dengan Tuhan           semata, dan sejenisnya.</span></p>
</div>
<div id="ftn19">
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn19" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref19"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:#000000;">[19]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;"> Lihat: Martin van Bruinessen, &#8220;Duit, jodoh, dukun: Remarks on           cultural change among poor migrants to Bandung&#8221;, <em>Masyarakat           Indonesia</em> XV, 1988, 35-65 (khususnya 55-60).</span></p>
<p class="MsoNormal"><a name="_ftn20" href="http://www.let.uu.nl/%7EMartin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm#_ftnref20"><sup><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;">[20]</span></sup></a><span style="font-size:10pt;font-family:&quot;color:black;"> Kesan ini berdasarkan percakapan dengan mahasiswa-mahasiswa di Bandung           pada tahun 1983, serta laporan pers tentang pengadilan anggota Jamaah           Imran. Di antara buku-buku tentang kasus ini yang telah terbit, yang           paling informatif adalah: Anjar Any, <em>Dari Cicendo ke Meja Hijau:           Imran Imam Jamaah</em>. Solo: CV. Mayasari, 1982. Namun buku ini hanya           menceritakan tentang kegiatan kekerasan kelompok inti saja, tidak           banyak tentang pengikut biasa, yang tidak langsung terlibat dalam           kegiatan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal">Sumber: <a href="http://www.let.uu.nl/~Martin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm" target="_blank">http://www.let.uu.nl/~Martin.vanBruinessen/personal/publications/gerakan_sempalan.htm</a></p>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak08.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak08.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=24&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/29/gerakan-sempalan-di-kalangan-ummat-islam-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>WAWANCARA TOKOH: ISLAM, DEMOKRASI, DAN LIBERALISME</title>
		<link>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/28/wawancara-tokoh-islam-demokrasi-dan-liberalisme/</link>
		<comments>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/28/wawancara-tokoh-islam-demokrasi-dan-liberalisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Sep 2008 19:26:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[agama]]></category>
		<category><![CDATA[DAN LIBERALISME]]></category>
		<category><![CDATA[DEMOKRASI]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Demokrasi]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Liberal dan Kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Jaringan Islam Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[JIL]]></category>
		<category><![CDATA[Liberal Islam]]></category>
		<category><![CDATA[liberalisme dan kekuasaan]]></category>
		<category><![CDATA[Luthfie Assyaukanie]]></category>
		<category><![CDATA[relasi kekuasaan dan agama]]></category>
		<category><![CDATA[sekular]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>
		<category><![CDATA[sekuler]]></category>
		<category><![CDATA[WAWANCARA TOKOH: ISLAM]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak08.wordpress.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Cak Nur membicarakan apa saja enak, tidak ada beban, karena Soeharto dengan tangan besinya akan melindungi mereka...
...
Dan ini Perancis sekali dengan gerakan pembaharuan sekarang: yang mana teman-teman JIL dan lainya sering dituduh berkolaborasi dengan Barat. Saya bilang ya kita memiliki kesamaan dan kemiripan dengan Barat. Karena agenda yang kita jalankan adalah sama dengan agenda yang dijalankan oleh negara-negara Barat...
...
...Apakah anda mau umat Islam terus-menerus terbelakang akan tetapi bersatu, atau ingin mengubah cara mereka tetapi berpecah sedikit? Cak Nur dalam hal ini memilih disintegrasi, jelas sekali sikap Cak Nur sejak awal...<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=20&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dalam sejarah pembaharu pemikiran Islam di Indonesia, Nurcholish Madjid dianggap sebagai seorang yang memiliki kontribusi besar dalam pengembangan wacana Islam politik, termasuk wacana soal keksuaian Islam dan demokrasi. Dalam perjalanannya, isu ini tidak pernah menunjukkan kesurutannya, terus mengalami </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">progress<em> atau modernisasi pemikiran karena terus dikembangkan oleh para perawisnya di kalangan anak-anak muda. Kemajuan ini pun tidak lepas dari isu-isu militansi yang mengawalnya, seperti wacana khilafah yang diusung oleh Hizbut Tahrir Indonesia. Dalam rangka 1000 hari wafat Cak Nur, Pusat Studi Islam dan Kenegaraan (PSIK) Universitas Paramadina melakukan wawancara dengan Luthfi Assyaukanie, Koordinator Jaringan Islam Liberal, Jakarta seputar masalah ini. Wawancara dilakukan oleh Lukman Hakim dan Deni Agusta di kantor Freedom Institute, di Jakarta pada Jumat, 25 Januari 2008. Berikut petikan wawancaranya. </em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Lukman Hakim</span></strong><strong></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Perdebatan soal partai politik Islam hingga kini tidak pernah selesai. Dan Cak Nur menganggap bahwa isu itu akan terus berkembang hingga kini. Pertama, Islam merupakan agama konsepsi soal moral. Oleh umatnya dengan demikian seluruh nilai-nilainya itu relevan dijadikan pedoman hidup. Makanya ada sebagian kalangan yang menganggap bahwa Islam juga masih tetap relevan dengan apapun, termasuk politik. Dan Mas Luthfi sendiri melihatnya bagaimana?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Luthfi Assyaukanie</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Isu Islam dan politik tampaknya memang tidak akan pernah selesai dalam waktu dekat. Wacananya terus bekembang, yang pro-kontra hingga kini, menurut saya, sama kuatanya. Di Indonesia sendiri isu-isu politik dibarengi dengan isu-isu militansi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saya kira Cak Nur sendiri memiliki kontribusi yang cukup dalam pengembangan wacana politik Islam. Kalau boleh saya singkat, perkembangan itu sebenarnya menuju kepada kemajuan, menuju pada progres pemikiran atau apa yang saya sebut sebagai moderasi pemikiran, meskipun di sana-sini terdapat kelompok radikal yang bermunculan. Akan tetapi kalau kita berbicara tentang wacana pemikiran politik Islam secara umum boleh saya katakan terjadi moderasi dan terjadi pencairan yang luar biasa dalam melihat konsep pemikiran politik Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Akhir-akhir ini sering muncul tema khilafah. Dan menurut mas Luthfi sendiri apa sesungguhnya yang melatarbelakangi ini?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ignorancy</span></em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">! <em>Ignorancy</em> itu bagian dari aktivisme&#8211;apa yang disebut sebagai harakah Islamiyah yang muncul sejak tahun 70-an. Tapi ini diakomodir oleh situasi politik kita yang lebih demokratis dan lebih bebas sejak satu dasawarsa terakhir ini. Munculnya gerakan HTI yang mendukung gagasan utopianisme Islam itu disebabkan karena ada ruang bagi mereka untuk menuangkan gagasan tersebut. Tapi menurut saya itu adalah kemunduran. Pertama, tidak memiliki akar sejarah di dalam konteks pemikiran politik Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sekalipun Indonesia adalah negara berpenduduk Islam terbesar, namun cukup rasional dalam merespon isu gerakan khilafah yang muncul sejak tahun 1925-1926.<span> </span>Beberapa perangkat formal dan informal dibangun untuk mendukung gerakan penghidupan kembali khilafah. Di Mesir dan<span> </span>India gerakan khilafah ini ada. Di Yordan itu belakangan. Di tahun 25-26 itu ketika terjadi <em>khalifah movement</em>, sesungguhnya pada dirinya sendiri sebenarnya tidak ada. Ada undangan konferensi khilafah misalnya yang dihadiri oleh Tjokroaminoto dan juga Hamka Karim Amrullah. Pada waktu itu konferensi tidak berhasil memutuskan siapa yang menjadi khalifah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Yang harus dicatat di sini adalah bahwa dilegasi Indonesia datang ke Mekkah dan Jeddah itu bukan untuk mendukung (gagasan) khilafah. Akan tetapi sedang mencari dukungan untuk kemerdekaan Indonesia. Dengan kata lain, hal ini sangat bertentangan dengan misi konferensi itu sendiri. Poin saya adalah khilafah tidak pernah menjadi isu (khususnya di Indonesia). Bahkan para pendiri negeri ini sadar betul bahwa khilafah sesuatu yang tidak bisa lagi dipertahankan. Oleh karena itu orang-orang yang mendukung gerakan khilafah itu sebetulnya ignorant (tidak mengerti apa-apa), terbelakang sekali dalam mengikuti sejarah pemikiran Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Atau mungkin kelompok-kelompok itu ingin mencari jalan pintas dari situasi yang tidak menguntungkan umat Islam. Bagi mereka, khilafah adalah jalan keluar?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ya. Penjelasan yang masuk akal mungkin itu. Kelompok-kelompok Islam yang selalu meneriakkan Islam adalah solusi, pada dasarnya mereka melihat ketimpangan, ketidakadilan dalam kehidupan sosial-politik kita. Mereka kemudian mencoba mencari alternatif. Dan salah satu dari alternatif itu adalah kembali pada khilafah. Akan tetapi mereka tidak mengerti apa itu khilafah? Dinamika khilafah? Dan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di Turki kelompok yang mendukung semangat khilafah itu adalah kaum liberal yang mengerti penuh bahwa khilafatisme itu sepenuhnya adalah sekuler. Akan tetapi kelompok-kelompok seperti Fathulah Goelan&#8211;kelompok-kelompok anti-reformasi&#8211;dan kelompok-kelompok yang didukung oleh AKP dan lainnya, kelompok yang bukan nasionalisme Turki dan juga bukan Islamisme, mereka membayangkan kebangkitan peradaban Turki. Dan pengertian kebangkitan peradaban Turki Utsmani yang sepenuhnya bersifat sekular.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saya yakin betul orang-orang HTI itu tidak mengerti sejarah khilafah. Khilafah itu melewati masa-masa keemasanya itu justru ketika mereka menjaga jarak dengan agama. Begitu mereka mencampuradukannya dengan agama, mereka runtuh. Dan itulah yang terjadi semasa Abdul Hamid (Turki). Saya kira problem yang cukup pelik di dalam khilafah ini tidak diketahui oleh para aktivisme Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Cak Nur melihat bahwa Islam memiliki semangat untuk berdemokrasi yang cukup baik. Akan tetapi beberapa kalangan menilai, orientalis khususnya, melihat bahwa Islam itu tidak akan sangup berdemokrasi. Salah satu contoh adalah negara-negara yang terdapat di Timur Tengah, kulturnya memang tidak cocok untuk demokrasi. Menurut Mas Luthfi sendiri adakah nilai-nilai keIslaman yang bisa diadopsi ke dalam nilai-nilai demokrasi khususnya di Indonesia?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Islam itu bukan sesuatu yang baku. Islam tidak memiliki esensi yang bisa didefinisikan dalam arti tertentu. Islam selalu berkembang dan dinamis. Kalau ada orang yang mengatakan Islam tidak kompatibel dengan demokrasi, maka dia sesungguhnya sudah men-singel out pemahaman Islam tertentu. Misalnya Islam yang puritan, literal, Islam yang tidak mau berubah dan lainnya. Tetapi kalau Islam itu sudah didefinisikan sedemikian rupa maka dengan mudah dia akan kompatible dengan demokrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ketika Cak Nur berbicara tentang kompatibalitas Islam dan Demokrasi, yang dia maksudkan sesunguhnya adalah Islam yang sudah ditafsirkan sedemikian rupa agar sesuai dengan demokrasi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sekularisasi mungkin menjadi prasarat untuk menuju demokrasi. Dalam pengalaman Islam sendiri apakah memang perlu melakukan sekularisasi? Karena dalam beberapa hal juga istilah sekularisasi itu sendiri tidak sesuai dengan Islam, bahkan pengalaman Barat dan Islam dalam konteks realitas hubungan politik vis a vis agama, jelas berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saya kira solusinya jangan menggunakan istilah. Nilai-nilai sekularisme itu sendiri sebetulnya sudah ada sebelum dunia modern itu muncul. Artinya dia pernah ada di Yunani, India dan lainnya. Istilah sekularisme atau sekularisasi itu bukan penemuan baru, dan sebetulnya praktek-praktek semacam itu sesungguhnya sudah ada.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kalau kita mau mencoba mengaitkan sekularisasi dengan Islam saya kira yang harus ditekankan itu adalah semangatnya bukan pada persoalan apakah Islam harus menerapkan sekularisme atau meninggalkannya. Intinya adalah bahwa kita harus memisahkan ortoritas politik dengan otoritas negara. Selanjutnya anda mau menamakan sekularisasi, demokratisasi dan apapun itu sesunguhnya tidak masalah. Menurut saya, itu maunya Cak Nur. Akan tetapi sebuah konsep harus diberi nama. Dan yang kita bicarakan barusan namanya dalam wacana politik modern adalah sekularisasi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Menurut Mas Luthfi kira-kira bagaimana prospek demokrasi di Indonesia ke depan?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saya kira akan berkembang terus, tidak ada alasan untuk mundur, dan tidak ada poin untuk kembali lagi ke masa-masa otoriter atau ke masa-masa ideologi politik Islam pada tahun 50-an. Karena hal itu terbukti gagal dan tidak bisa lagi untuk diterima oleh umat Muslim. Jadi Demokrasi ke depan adalah satu-satunya alernatif yang lebih baik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tapi begini mas, kalau kita melihat pernyataan Jusuf Kalla pasca Rapimnas Golkar tempo hari cukup mengejutkan sekali. Dia mengatakan bahwa demokrasi itu belum sanggup mengantarkan masyarakat menjadi yang lebih makmur. Selai itu, dalam beberapa Pilkada terjadi kerusuhan dan konflik, itu semuanya disebabkan oleh demokrasi. Dan ini membuat tokoh-tokoh bangsa mengatakan bahwa demokrasi itu direvisi saja. Kira-kira dari rasa pesimisme itu adakah upaya-upaya ingin kembali kepada sistem otoriter?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada yang salah dengan praktek demokrasi. Mungkin masyarakat kita ini belum siap dengan praktek demokrasi itu sendiri. Tapi itu bukan berarti bahwa kita menolak konsep demokrasi. Akan tetapi pada dasarnya cara kita menerapkan demokrasi itu harus diperbaiki, dan ketika kita menjalan perangkat demokrasi juga harus benar. Dan saya kira kritik Jusuf Kalla lebih pada aspek itu. Bukan pada aspek apakah demokrasi itu baik atau buruk.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Bisa diceritakan kembali soal tesis Mas Lutfi yang mengatakan bahwa Islam politik di Indonesia itu telah mengalami pergeseran dari negara demokrasi Islam ke negara demokrasi agama hingga pada akhirnya negara demokrasi liberal seperti sekarang ini.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Secara umum para akademisi di Indonesia melihat Islam di Indonesia itu ada tiga kategori; pertama, abangan. Kedua, santri. Dan ketiga, priyai. Kalau kita melihat pergolakan dan perkembangan yang luar biasa pada pemikiran politik komunitas santri. Ini terjadi dalam beberapa aspek baik pengembangan argumen, cara merespon isu-isu politik dan lain sebagainya. Nah itulah yang saya lihat pada 5 dekade belakangan ini terjadi perkembangan yang sangat luar biasa dalam komunitas santri. Oleh Hefner dikatakan bahwa telah terjadi perkembangan dari abangan menjadi santri, atau dari santri menjadi abangan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Akan tetapi saya melihat persoalannya bukan abangan menjadi santri dan santri menjadi abangan, tetapi dalam komunitas santri itu telah terjadi perkembangan yang luar biasa, baik karena interaksi, pendidikan, maupun medium-medium promosi lainnya. Dan karena itu ada perubahan sikap dalam melihat model kata pemerintahan di dalam ilmu politik di dalam masyarakat Islam. (Pergeseran itu terjadi) misalnya kalau kita lihat pada awal-awal pemerintahan hampir tidak ada tokoh santri muslim yang menolak gagasan negara Islam. Mungkin ada satu, dua. Akan tetapi dia tidak ingin mengasosiasikan dirinya dengan masyarakat santri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Artinya apa? Paradigma politik santri pada awal-awal kemerdekaan sepenuhnya mendukung gagasan negara Islam. Ini dibuktikan dengan besarnya jumlah dukungan pada partai politik Islam yang mendukung konsep negara Islam. Masyumi, NU, PSII dan semua kaum muslim yang berafiliasi pada santri saat itu mendukung gagasan negara Islam. Mereka sebetulnya menerima demokrasi tetapi demokrasi yang harus diberikan atribut demokrasi Islam. Istilah itu sendiri diperkenalkan oleh Natsir, dan didukung oleh tokoh-tokoh Masyumi. Dan hingga tahun 60-an boleh dibilang paradigma politik umat Islam adalah paradigma negara demokrasi Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ini mengalami pergeseran setelah transisi politik dari Orde Lama ke Orde Baru, khususnya pada generasi muda Muslim seperti Cak Nur, Mas Dawam, dan lain-lain. Mereka mengkritik paradigma politik Islam lama. (Kritik itu) sebetulnya sudah dimulai oleh pak Munawir Sadjali. Pada tahun 50-an dia menulis risalah kecil yang menolak negara Islam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Baru setelah masuk tahun 70-an, waktu terjadi transisi politik, generasi santri secara terbuka mengkritik konsep-konsep pemikiran politik Islam. Sebagian besar mencoba mencari alternatif dan mengajukan model negara demokrasi yang agamis, demokrasi yang plural. Plural dalam pengertian bahwa agama harus berperan dalam negara. Itu menjadi paradigma umum pada waktu itu. Dan kebetulan Soeharto yang berkuasa itu juga mempergunakan dan merasa bahwa agama dapat dipergunakan untuk politik.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sejak awal saya kira sikap Soeharto seperti itu. Hal itu terlihat ketika ia menerbitkan kebijakan fusi partai-partai politik. Sejak zaman Pak Harto, agama diatur oleh negara. Akan tetapi bukan dalam pengertian agama dikeluarkan dari negara, tetapi agama memainkan peran penting di dalam kebijakan negara. Departemen Agama diperkuat, MUI didirikan di tahun 1975, diciptakan peradilan agama, dan lainnya. Itu merupakan bagian dari gagasan yang saya sebut dengan model negara demokrasi agama. Mereka masih tetap menerima demokrasi; demokrasi yang basisnya agama. Tentu saja dari perspektif teori demokrasi ini bukan sebuah demokrasi yang sejati.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Demokrasi tidak akan pernah berjalan kecuali di atas platform negara sekuler: negara yang betul-betul memisahkan urusan agama dengan negara. Dan itu muncul setelah tahun 80-an, Cak Nur, Gus Dur mulai mengkritisi negara yang terlalu ikut campur dalam urusan agama. Secara umum mereka mulai bisa menerima model negara demokrasi Islam liberal. Mereka bahkan tidak menyebutnya itu sebagai demokrasi Islam, tapi Liberal Democrasi. (Buat mereka) itu sama sekali tidak bertentangan dengan Islam. Nilai-nilai keIslaman justru bisa diterapkan dan bisa diakomodir dalam negara seperti ini. Mungkin itu saya kira latar belakangnya seperti itu. Dan (selanjutnya) generasi di bawah Cak Nur, saya kira tidak ada (lagi) keraguan sama sekali untuk menerima demokrasi liberal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kalau anda baca tulisan-tulisan orang Islam seperti baik Natsir, Syafruddin, Roem, dan beberapa tokoh Masyumi pada awal kemerdekaan itu hampir tidak ada yang menulis demokrasi liberal. Mereka selalu ragu menerima demokrasi liberal. Bagi mereka kalau mau menerima demokrasi harus ada label Islamnya. Pada masa Orde Baru mereka mulai bisa memisahkan Islam. Akan tetapi tidak bisa memisahkan agama. Orang seperti Syafi&#8217;i Ma&#8217;arif, Dawam Rahardjo, dan beberapa tokoh muslim di pemerintahan masih menganggap agama itu penting. Baru pada masa Cak Nur, dan juga Gus Dur menganggap bahwa agama tidak perlu lagi ikut campur dalam urusan negara. Meskipun dalam pemikiran Cak Nur awal-awal masih tidak jelas. Buku <em>Indonesia Kita </em>itu (menunjukkan) sangat jelas sekali sikap Cak Nur bahwa urusan negara harus dipisahkan dengan agama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Demokrasi berangkat dari pemikiran yang liberal, benarkah seperti itu? Kita melihat makna liberalisme Islam itu menjadi bermakna pejoratif di kalangan sebagian umat. Apalagi menyangkut isu-isu soal liberalisme Islam. Dan mas Luthfi sendiri melihatnya seperti apa?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sesuatu yang prejoratif belum tentu salah, dan sesuatu yang kontroversial belum tentu keliru. Masalahnya adalah masyarakat kita itu yang belum bisa menerima. Sama seperti orang-orang Masyumi dan kaum santri pada tahun 50-an belum bisa menerima demokrasi, dan tidak bisa menolak konsep negara Islam. Sekarang ini hampir tidak ada orang yang mau menerima negara Islam. Artinya berbalik 180 derajat. Kalau sekarang mereka menolak demokrasi liberal, demokrasi yang sejati, liberal (yang saya maksud) bukan dalam arti ideologis. Demokrasi liberal adalah demokrasi yang konstitusional. Lebih tepat istilahnya adalah <em>constitutional democracy</em>. Dalam arti seperti itu saya kira lambat laun akan diterima oleh masyarakat. Karena itu merupakan tawaran yang paling ideal, dan bisa diterima oleh seluruh elemen masyarakat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kalau saya berbicara soal liberal demokrasi itu maksudnya demokrasi yang konstitusional, demokrasi yang bisa mengakodomir semua masyarakat. Demokrasi yang menghargai kebebasan, pluralisme, kebebasan agama dan lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Akan tetapi kampanye soal itu di kalangan beberapa orang mungkin tidak bisa diterima. Lalu strategi apa yang bisa dilakukan? Karena bagaimanapun ketika dia sudah melihat maknanya yang pejoratif mereka buru-buru langsung menutup diri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kadang-kadang kita juga harus menghindari istilah. Masalahnya juga terkadang kita juga tidak mungkin menghindari dari penggunaan istilah. Istilah itu diciptakan untuk digunakan dalam konteks tertentu. Dalam kasus demokrasi misalnya kita tidak perlu menyebut bahwa kita mesti dan harus mengadopsi demokrasi liberal. Kita bilang saja demokrasi tidak usah menggunakan kata sifat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kalau dulu orang Islam menginginkan terbentuknya negara Islam dan kini mengalami pergeseran. Pasang surut seperti ini memiliki relasi kuasa; apakah relasi pengetahuan, rezim tertentu, dan lainnya. Mungkin dulu itu cita-cita terbentuknya negara Islam lebih pada semangat ketika aspirasi umat Islam berhadapan langsung dengan negara. Dan Islam politik juga selalu mengalami proses marjinalisasi oleh kekuasaan yang dibangun oleh orde baru. Lalu bagaimana mas Luthfi melihat hal itu?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saya kira tidak ada yang keliru antara relasi kuasa dengan pengetahuan atau dengan sebuah konsep selama yang kita tuju adalah sesuatu yang positif. Misalnya kalau kita merasa bahwa kalau demokrasi itu benar atau lebih baik diterapkan dalam negara Islam atau negara teokrasi. Kita bisa menggunakan kekuasaan untuk itu. Kita bisa menggunakan network atau jaringan pengetahuan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Apa yang dilakukan oleh Cak Nur dan para intelektual muslim, yang mana waktu dulu mereka menganggapnya sebagai berkolaborasi dengan rezim. Saya kira yang membedakan generasi Cak Nur dengan kita adalah kalau dulu <em><strong>Cak Nur membicarakan apa saja enak, tidak ada beban, karena Soeharto dengan tangan besinya akan melindungi mereka.</strong></em> Sementara kita berhadapan dengan elemen masyarkat yang sangat sulit (menerima), sangat bebas sekali, dan negara tidak ikut campur. Maksud saya adalah bahwa saat itu Cak Nur diuntungkan oleh keadaan sehingga dengan mulus dia bisa mengkampanyekan ide-idenya. Dan kita sekarang ini harus berkontestasi, harus mengasah terus argumen bahwa argumen yang kita kemukakan itu valid.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">(Tapi) tidak serta merta bahwa Cak Nur, Gus Dur dan para intelektual muslim pada waktu berkolaborasi dengan kekuasaan, bukan untuk kekuasaan. Karena kebetulaan agenda mereka sama: Agenda Cak Nur ingin merubah <em>mindset</em> kaum muslim, dan agenda negara juga kurang lebih untuk hal yang sama seperti itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Dan ini Perancis sekali dengan gerakan pembaharuan sekarang: yang mana teman-teman JIL dan lainya sering dituduh berkolaborasi dengan Barat. <em><strong>Saya bilang ya kita memiliki kesamaan dan kemiripan dengan Barat. Karena agenda yang kita jalankan adalah sama dengan agenda yang dijalankan oleh negara-negara Barat. Seperti demokrasi, plurlisme, hak asasi manusia, gender. Kebebasan beragama dan lain sebagainya. Kita menganggap hal itu baik. Dan kita mencoba menerapkan hal demikian di sini. Dan ini percis sekali dengan apa yang pernah dilakukan Cak Nur dalam konteks hubunganya dengan orde baru saat itu.</strong></em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Nah itulah yang saya bilang relasi kuasa dengan sebuah konsep tidak serta merta dipahami dengn sesuatu yang negatif. Kalau itu diperlukan sebanarnya tidak apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saya pernah membaca pendapatnya Amartya Sen ketika ingin menerapkan demokrasi, paling tidak ada tiga prasyarat yang harus dikerjakan terlebih dahulu. Pertama, masyarakat itu terdidik. Secara kultural mereka yang terdidik dapat mengapresiasi pengetahuan. Yang kedua, sistem ekonoimi negara bisa berjalan. Dan ketiga, bahwa secara kultural masyarakat bisa menerima perbedaan yang ada. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mungkin salah satu gagasan yang dibangun oleh JIL mungkin strateginya kurang tepat. Bagaimana pun juga <em>at-thariqah ahammu min al-maddah</em>. Bagaimana mas Lutfhi melihat pembacaaan-pembacaan seperti itu?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kadang-kadang demokrasi itu berjalan di luar teori yang dibuat manusia. Sebagai contoh adalah kasus yang terjadi di India. India itu adalah negara demokrasi terbesar di dunia, lebih besar dari Amerika. Proses demokratisasinya berjalan dengan baik dan dari tahun ke tahun demokrasinya selalu stabil. Tapi rakyatnya masih bodoh, terbelakang, dan kemiskinan di mana-mana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Tetapi kalau ada yang mengatakan bahwa demokrasi harus sejahtera terlebih dahulu hal itu<span> </span>tidak terjadi pada India. Jadi kalau kita mau mengampanyekan demokrasi tidak usah menunggu harus pintar dulu dan lain sebagainya. Dan salah satu cara mengajak masyarakat pintar itu adalah dengan melatih pikiran mereka. Saya melihat gerakan pembaharuan secara umum, tidak hanya JIL, tujuannya adalah itu. Itulah yang sejak awal oleh Cak Nur disebut dengan shock terapi. Dan shok terapi itu penting untuk dilakukan terus menerus agar masyarakat berpikir.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Ada satu istilah yang cukup bagus &#8220;complacency&#8221;, yaitu sebuah keadaan masyaraat yang sudah lama dininabobokan, sudah lama berada dalam satu paradigma yang merasa benar sendiri. Complasesi itu adalah sebuah kondisi yang tidak sehat, artinya berabad-abad umat Islam itu berada dalam komplasensi. Sehingga harus ada <em>shock</em> terapi yang dapat mengejutkan mereka. Dan itu sesungguhnya inti dari pemikiran Cak Nur, melakukan shock terapi pada umat Islam. Dan kita tahu makalah awal-awal Cak Nur yang dibagikan secara terbatas &#8216;Antara Memajukan Mencerahkan Umat Islam dan Disintegrasi&#8217;. Disintegrasi dalam artian bahwa umat Islam sekarang ini tidak bersatu. <em><strong>Apakah anda mau umat Islam terus-menerus terbelakang akan tetapi bersatu, atau ingin mengubah cara mereka tetapi berpecah sedikit?</strong><strong> Cak Nur dalam hal ini memilih disintegrasi, jelas sekali sikap Cak Nur sejak awal.</strong></em> Saya tidak mau umat Islam bersatu terus tapi juga bodoh terus. Maka harus kita lakukan terobosan-terobosan. Jadi Cak Nur lebih memilih jalan yang pahit. Dan saya kira seluruh gerakan pembaharuan Islam itu arahnya ke sana. Kita tidak usah menunggu situasi baik dulu, dan menunggu orang pintar dulu, dan lain sebagainya. Lakukan saja apa yang bisa kita lakukan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;">Source:</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="PSIK" href="http://www.psik-demokrasi.org/home.php?page=fullnews&amp;action=view&amp;id=76" target="_blank"><span class="source">http://www.psik-demokrasi.org/home.php?page=fullnews&amp;action=view&amp;id=76</span></a></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;margin:0;"><a title="ASSYAUKANIE.COM" href="http://www.assyaukanie.com/interviews/wawancara-tokoh-islam-demokrasi-dan-liberalisme" target="_blank">http://www.assyaukanie.com/interviews/wawancara-tokoh-islam-demokrasi-dan-liberalisme</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak08.wordpress.com/20/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak08.wordpress.com/20/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=20&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/09/28/wawancara-tokoh-islam-demokrasi-dan-liberalisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Wajah Baru Islam</title>
		<link>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/07/24/wajah-baru-islam/</link>
		<comments>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/07/24/wajah-baru-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Jul 2008 04:34:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orientalisme]]></category>
		<category><![CDATA[dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[interpretasi Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[kritik Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Liberalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Muslim Liberal]]></category>
		<category><![CDATA[Osama ben Laden]]></category>
		<category><![CDATA[radikalisme Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Usamah bin Ladin]]></category>
		<category><![CDATA[wajah Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak08.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Para pemikir muslim liberal telah mengemukakan argumen serupa di masa lalu, tetapi mereka berada di luar dan seringkali bukan ahli ilmu agama. Di sisi lain, proyek Turki tadi didukung oleh Partai AK yang berkuasa, partai dengan akar Islamis yang terpilih secara demokratis paling berhasil di dunia. Para profesor yang terlibat cepat-cepat menolak bahwa pekerjaan mereka mewakili semacam Reformasi Islam—tidak ada Martin Luther di antara mereka, tidak ada tesis yang buang. Mereka menyebut apa yang sedang mereka kerjakan sebagai sebuah “pemikiran kembali” atau “pemahaman kembali” teks-teks suci “menurut konsep-konsep modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, hak-hak wanita dan nilai-nilai universal,” kata Gormez. Meskipun demikian karya mereka memiliki potensi dengan jangkauan luas, berdasarkan kredibilitas sumbernya.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=6&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"><strong>Kritik atas Radikalisme di Jantung Dunia Islam</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Christopher Dickey dan Owen Matthews</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><em><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Newsweek</span></em></strong><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">, 31 Mei 2008</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di pertengahan 1990-an, Usamah bin Ladin terjerat masalah, dan masalahnya adalah Islam. Kepada para pengikutnya, dia berkata bahwa al-Quran mengijinkan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa dan dan terhadap orang-orang muslim sendiri dengan alasan “jihad”. Itulah upayanya memberikan pembenaran atas kampanye teror global yang dilancarkannya. Namun pandangan dia sesungguhnya bertentangan dengan kitab suci kaum muslim, dan juga bertentangan dengan tafsir al-Quran yang ditulis para sarjana (ulama) dan da’i.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Maka bin Ladin memelintir wahyu yang terkandung dalam al-Quran. Ia pelintir juga perkataan Nabi Muhammad yang dikenal dengan Hadits, yang menjadi konteks sandaran bagi pengamalan ajaran Islam. Jutawan Saudi itu menulis kecaman tajam, yang dia sebut deklarasi perang, dan kemudian dia nyatakan sebagai fatwa atau dekrit keagamaan, sambil mencomot kutipan-kutipan dari Kitab Islam dan mengajak para ulama yang ragu mendukungnya. Risalah yang ditulisnya itu merupakan propaganda politik, bukan teologi, yang digarap dengan begitu baik agar mencapai sasaran. Ia promosikan gagasan keagamaan tentang perang suci, dan ia ejawantahkan pada 11 September, yang sekaligus menjadi visi Islam dominan bagi mereka yang memiliki sedikit pemahaman keimanan, baik di Barat maupun di dunia Islam, sehingga banyak pula ulama yang terhasut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sekarang hal ini mulai berubah. Pemikir-pemikir muslim terkemuka, termasuk yang memberikan dukungan kuat kepada bin Ladin, telah menolak pandangan bin Ladin tentang jihad. Publik yang simpati di Timur Tengah dan Asia Selatan sempat tertipu. Sebagaimana dikatakan Direktur CIA Michael Hayden minggu lalu, “pada dasarnya, tidak ada yang benar-benar menyukai visi masa depan al-Qaeda.” Di saat yang sama, tengah terbentuk sebuah visi baru Islam yang lebih penting untuk jangka panjang, yang berbeda dengan pandangan bin Ladin ataupun para tradisionalis pendahulunya. Sebuah momentum tengah dibangun di dunia muslim untuk menguji-ulang apa yang telah dianggap sebagai rukun iman baku, untuk menentang apa yang telah diterima sebagai kebenaran-kebenaran literal, dan untuk membuka pintu-pintu interpretasi (<em>ijtihad</em>) yang telah coba ditutup oleh beberapa mazhab Islam berabad-abad yang lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sekelompok sarjana yang berbasis di Ankara Turki menggarap sejumlah karya teologi dan intelektual yang cukup ambisius. Mereka berharap menerbitkan edisi-edisi baru hadits sebelum akhir tahun. Mereka telah mengumpulkan 170.000 narasi perkataan nabi yang diketahui. Narasi-narasi tersebut diduga merupakan rekaman perkataan dan perbuatan Muhammad sebagai panduan hidup sehari-hari, sekaligus sebagai kunci untuk membuka sejumlah misteri dalam al-Quran. Tetapi di dalamnya terdapat banyak anekdot yang keluar dari konteks historis. Lagipula, orang-orang yang menyampaikan atau mencatat riwayat tidak selalu bisa diandalkan. Kadang-kadang mereka mencampurkan antara “nilai-nilai Islam universal dengan nilai-nilai geografis, kultural dan relijius dari jaman dan tempat hidupnya nilai-nilai itu,” ujar Mehmet Gormez, seorang profesor teologi di Universitas Ankara yang mengerjakan proyek itu. “Setiap narasi hadits memiliki sebuah konteks. Kami ingin memberikan kembali rumah bagi setiap narasi.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Mehmet Aydin, yang pertama kali menyusun proyek hadits ini empat tahun silam, ketika menjabat menteri negara untuk urusan keagamaan Turki, menyatakan bahwa pada abad ke-7 atau pada masa Nabi, kehidupan jelas-jelas sangat berbeda. Ada satu hadits, misalnya, yang melarang wanita berpergian sendiri. Di Arab Saudi, hadits tersebut dan hadits-hadits lainnya dijadikan alasan wanita tidak boleh menyetir. “Ini tentu saja bukan larangan agama, melainkan nilai yang terkait dengan keamanan pada waktu dan tempat tertentu,” kata Gormez. Bahkan, di kesempatan lain Nabi menyatakan kerinduan akan masa-masa ketika wanita bisa berpergian sendiri dari Yaman ke Mekah. Dalam tiga abad awalnya, “Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani, Iran dan India, dan pada setiap pertemuan [para ulama] mereinterpretasi Islam menurut kondisi yang baru,” lanjut Gormez. “Saat itu mereka tidak takut memikirkan kembali Islam.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Para pemikir muslim liberal telah mengemukakan argumen serupa di masa lalu, tetapi posisi mereka berada di luar, dan seringkali tidak berposisi sebagai ahli ilmu agama. Di sisi lain, proyek Turki itu didukung oleh Partai AK yang berkuasa, sebuah partai dengan akar Islami yang terpilih secara demokratis dan paling berhasil di dunia. Para profesor yang terlibat dalam proyek itu segera menyangkal anggapan bahwa pekerjaan mereka mencerminkan sejenis Reformasi Islam—tidak ada Martin Luther di antara mereka, tidak ada tesis yang dibuang. Proyek ini mereka sebut “pemikiran kembali” atau “pemahaman kembali” teks-teks suci, “menurut konsep-konsep modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, hak-hak wanita, dan nilai-nilai universal,” kata Gormez. Meski demikian, karya mereka memiliki potensi jangkauan yang luas, yang bersandar pada kredibilitas sumbernya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sejumlah negara semisal Pakistan atau Arab Saudi, yang memberi toleransi terhadap radikalisme di masa lalu, mulai melihat bahwa stabilitas sangatlah bergantung pada sikap moderat. Raja Arab Saudi Abdullah pun berubah sikap. Ia berupaya mengekang ekses dari semangat 10.000 imam yang digaji pemerintah. Pemerintah tidak sedang memikirkan kembali doktrin-doktrin dasar. Salahseorang penasehat raja yang tidak ingin disebut namanya, megatakan kepada NEWSWEEK, “katakanlah ada sebuah perdebatan teologis tentang bagaimana menyampaikan ide-ide dan nasehat mereka kepada publik.” Jika seorang wanita berpakaian agak tidak sopan menurut standar keagamaan Saudi, itu cukup dikatakan tanpa perlu menyebutnya perempuan sundal, atau tanpa mengancamnya dengan hukuman atau hal-hal yang lebih buruk. Ini dimaksudkan untuk meredam api yang memicu dan menginspirasi kaum muda Saudi mendaftar jihad di Irak dan tempat-tempat lainnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Di seluruh dunia muslim, tampaknya khalayak sudah siap dengan pesan baru ini. Kelas menengah yang berkembang tidak mau lagi menerima kesalehan hidup petani sebagai pedoman untuk tindakan publik dan pribadi. “Aturan-aturan agama tetap sama, tetapi sikap masyarakat terhadap agama telah berubah,” kata Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, yang pemerintahannya bekerja untuk membawa Turki ke dalam Uni Eropa. “Urbanisasi di negeri ini telah meningkatkan kesejahteraan dan pemahaman yang berbeda terhadap hidup.” Bahkan di Iran yang teokratik, polisi sering membatalkan pidato-pidato mullah Mohsen Kadivar yang berusia 49 tahun, karena menurut pihak berwenang, “pidato-pidatonya dapat mengakibatkan gangguan lalu-lintas dan publik di luar.” Pesan Kadivar? Bahwa sistem <em>vilayat-e-faqih</em> Iran, yang mencerminkan kewenangan seorang agamawan (<em>cleric</em>) untuk menyatakan kata-putus atas seluruh masalah kenegaraan, memiliki cacat yang fatal. “Sistem ini mencerminkan sentralisasi yang tidak demokratis terhadap interpretasi Islam,” ujar Kadivar. “Pemerintah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh umat manusia yang hidup di bumi!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Sementara resep bin Ladin untuk perubahan telah membawa kepada kematian dan kerusakan. Kaum radikal telah mengalihkan kemarahan dan bom-bom mereka terhadap muslim lainnya yang mereka anggap murtad atau tidak penting. Sebagai hasilnya, mereka menjadi terisolasi. Di Iraq, kekuatan Al-Qaeda terjerat dan tidak bisa dibedakan dari <em>gangster</em>. Di Pakistan, jajak pendapat menunjukkan bahwa dukungan masyarakat untuk bom bunuh-diri telah jatuh dari angka 30% lima tahun lalu, menjadi 9% hari ini. Dalam surat terbuka tahun lalu, seorang ulama Saudi yang lama menjadi rujukan bin Ladin, Syeikh Salman al-Oudah, menuntut, “saudara Usamah, sudah berapa banyak darah yang tertumpah? Berapa banyak orang tak berdosa di kalangan anak-anak, orangtua, orang lemah, dan perempuan yang terbunuh dan kehilangan rumah atas nama Alqaidah?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Kritik yang lebih pedas terhadap atas versi perang suci bin Ladin dilontarkan salahseorang dari segelintir pemikir keagamaan yang benar-benar dihormati di barisan jihadis, Sayyid Imam al-Sharif. </span><span style="font-size:10pt;font-family:Verdana;">Saat ini dia dipenjara di Mesir. Dia telah mengenal Ayman al-Zawahiri, pemimpin ke-dua Al Qaeda, sejak mereka di universitas. Dalam buku yang diijinkan terbit oleh pihak penjara Mesir tahun lalu, al-Sharif menulis tentang bagaimana Syari’ah, hukum Islam, telah dinodai oleh tindakan-tindakan al-Qaeda, “ada pihak yang telah membunuh ratusan manusia, termasuk perempuan dan anak-anak, Muslim dan non-Muslim, atas nama jihad!” Semua perbuatan itu, kata Sharif, tidak dapat diterima di mata Allah, hukum-Nya dan ummat-Nya. Sekali lagi bin Ladin terjerat masalah, dan masalahnya lagi-lagi Islam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">
<p style="text-align:justify;"><span lang="EN"> </span></p>
<p style="text-align:justify;">Diterjemahkan dengan bantuan seorang kawan (haturnuhun lur ^^)</p>
<p style="text-align:justify;">Judul asli:<strong> The New Face of Islam</strong></p>
<div class="authorInfo">By <a href="http://services.newsweek.com/search.aspx?q=Author:%5E%22christopher%20dickey%22$&amp;sortDirection=descending&amp;sortField=pubdatetime&amp;offset=0&amp;pageSize=10">Christopher Dickey</a> and <a href="http://services.newsweek.com/search.aspx?q=Author:%5E%22owen%20matthews%22$&amp;sortDirection=descending&amp;sortField=pubdatetime&amp;offset=0&amp;pageSize=10">Owen Matthews</a> | NEWSWEEK</div>
<div class="articleDate">
<div class="issueDate">From the magazine issue dated Jun 9, 2008</div>
</div>
<p class="MsoNormal"><span lang="EN">URL: <a href="http://www.newsweek.com/id/139433">http://www.newsweek.com/id/139433</a></span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak08.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak08.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=6&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/07/24/wajah-baru-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Teka-teki Terorisme</title>
		<link>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/05/11/teka-teki-terorisme/</link>
		<comments>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/05/11/teka-teki-terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 11 May 2008 01:57:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak08</dc:creator>
				<category><![CDATA[terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[Abdullah Sungkar]]></category>
		<category><![CDATA[Abu Bakar Baasyir]]></category>
		<category><![CDATA[abu dujana]]></category>
		<category><![CDATA[Afghanistan]]></category>
		<category><![CDATA[Al Qaidah]]></category>
		<category><![CDATA[Al-Qaeda]]></category>
		<category><![CDATA[Ambon-Poso]]></category>
		<category><![CDATA[ANTV]]></category>
		<category><![CDATA[BIN]]></category>
		<category><![CDATA[bom bali]]></category>
		<category><![CDATA[bom Makassar]]></category>
		<category><![CDATA[corong polisi]]></category>
		<category><![CDATA[densus 88]]></category>
		<category><![CDATA[detasemen 88]]></category>
		<category><![CDATA[farid gaban]]></category>
		<category><![CDATA[Hendropriyono]]></category>
		<category><![CDATA[Imam Samudra]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Jema'ah Islamiyah]]></category>
		<category><![CDATA[konspirasi kepolisian]]></category>
		<category><![CDATA[motif]]></category>
		<category><![CDATA[muslim]]></category>
		<category><![CDATA[Nasir Abbas]]></category>
		<category><![CDATA[negara Islam]]></category>
		<category><![CDATA[Ngruki]]></category>
		<category><![CDATA[Paul Wolfowitz]]></category>
		<category><![CDATA[pivot]]></category>
		<category><![CDATA[publicity stunt]]></category>
		<category><![CDATA[syariah]]></category>
		<category><![CDATA[teka-teki terorisme]]></category>
		<category><![CDATA[teknik pivot propaganda]]></category>
		<category><![CDATA[Teror]]></category>
		<category><![CDATA[Teror Bom]]></category>
		<category><![CDATA[Teror bom Natal]]></category>
		<category><![CDATA[teror Islam]]></category>
		<category><![CDATA[TKP]]></category>
		<category><![CDATA[wartawan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://jalansetapak08.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Kata "teroris" seakan bisa membenarkan apa saja yang mau dilakukan
polisi. Sebuah sikap tidak transparan dan tidak akuntabel. Sangat
potensial mengandung penyalahgunaan kekuasaan dan manipulasi.

Memberitakan secara gegabah klaim polisi dalam kasus terorisme punya
taruhan yang lebih besar dan berbahaya ketimbang klaim berita kecelakaan:

- Potensial memperuncing ketegangan antar-agama
- Menjustifikasi penindasan hak asasi manusia
- Menjustifikasi manipulasi dan penyalahgunaan kekuasaan

Terlalu besar taruhannya bagi bangsa ini.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=3&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dear Siska dan teman lain yang berminat soal terorisme,</p>
<p>[Ini lumayan panjang. Dan setelah menulis berjam-jam komentar ini,<br />
saya hanya ingin minta imbalan ditraktir ice cappucino deket kantor<br />
Siska. OK? Jadi, kapan kita bisa minum bareng?]</p>
<p><span style="font-weight:bold;">PENGANTAR</span></p>
<p>Saya harus mengaku pada Siska, saya mungkin tidak sebanyak Siska atau<br />
Chairul Sabili atau Alfian Hamzah dalam melakukan penelusuran lapangan<br />
soal terorisme, jika yang dimaksud adalah jalan ke lapangan.</p>
<p>Dalam kapasitas sebagai penjaga gawang rubrik nasional dan investigasi<br />
Tempo, saya membuat penugasan, menerima laporan dan menulis banyak<br />
tema terorisme dari para wartawan, termasuk Teror Bom Natal, yang<br />
terjadi jauh sebelum Al Qaedah maupun Jemaah  Islamiyah menjadi<br />
kosakata sehari-hari.</p>
<p>Sekeluar dari Tempo,  sepanjang tahun-tahun awal setelah Bom Bali, saya<br />
mengumpulkan sebagian besar pemberitaan tentang kasus itu dari sumber<br />
berita yang luas (termasuk juga laporan ICG-nya Sydney Jones) dan<br />
mencoba mensitematisasikann ya. Bahkan saya pernah membuat milis khusus<br />
untuk berita-berita teror di Indonesia. Ini sebuah proyek pribadi yang<br />
lebih didorong keingintahuan untuk memahami fenomena terorisme di<br />
Indonesia, tapi akhirnya harus saya sisihkan karena kesibukan lain.</p>
<p>Pesantren &#8220;Teroris&#8221; Ngruki saya kenal sejak SMP, akhir dasawarsa<br />
1970-an, karena tak jauh dari kota kelahiran saya. Sepupu perempuan<br />
saya bahkan mengajar di situ. Paman saya sendiri pernah menjadi<br />
pengikut Abdullah Sungkar dan Abu Bakar Baasyir.</p>
<p>Beruntung pula saya menjadi salah satu pembaca pertama laporan<br />
investigasi Alfian Hamzah tentang teror bom Makassar. Meski terbatas<br />
di Makassar, Alfian telah membuktikan secara solid kebohongan polisi<br />
dalam  mengkaitkan ledakan  bom di sana dengan Jemaah Islamiyah. Bahkan<br />
lebih buruk, menjebloskan tersangka tak bersalah ke penjara.</p>
<p>Investigasi Alfian adalah bukti paling solid sejauh ini tentang adanya<br />
konspirasi dalam tubuh kepolisian untuk membuat kesan bahwa Jemaah<br />
Islamiyah adalah organisasi yang omnipotent (sangat digdaya) dan<br />
omnipresent (ada di mana-mana). Sayang, tak ada koran di Makassar yang<br />
mau memuat laporan Alfian itu, sehingga dia menerbitkannya sendiri<br />
dalam versi fotokopi serta menjualnya di perempatan lampu merah!</p>
<p>Saya ada di lapangan ketika polisi menggerebek &#8220;teroris Wonosobo&#8221;,<br />
yang pernah saya tulis sebagai bentuk &#8220;publicity stunt&#8221; polisi berkat<br />
bantuan awak ANTV.</p>
<p>Saya juga mewawancara dan mengenal secara pribadi beberapa alumni<br />
Afghanistan, satu di antaranya seorang yang cukup senior untuk bisa<br />
menjadi perekrut, lebih senior dari Nasir Abbas maupun Imam Samudra.</p>
<p>Meski begitu, saya tak ingin mengklaim  memiliki pengetahuan  sempurna,<br />
baik tentang terorisme Indonesia maupun tentang Ngruki serta sepak<br />
terjang Sungkar dan Baasyir.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">SEBUAH PUZZLE LEBAR</span></p>
<p>Siska benar, rangkaian teror bom di Indonesia, bahkan di dunia, yang<br />
dituduhkan kepada kelompok Islam, adalah semacam puzzle. Dan kita<br />
masing-masing hanya mengetahui beberapa keping saja.</p>
<p>Sejauh ini polisilah yang memonopoli sebagian besar kepingan itu. Ini<br />
sebagian karena minimnya investigasi independen (terutama di kalangan<br />
media) terhadap apa yang dilakukan polisi. Sebaliknya dari itu, banyak<br />
media justru menjadi corong polisi.</p>
<p>Maaf, meski saya tidak bisa menyebut Siska &#8220;sekadar corong&#8221;, saya<br />
setuju Chairul bahwa sebagian jawaban Siska (yang akan kita bahas<br />
nanti) bersumber dari polisi, atau setidaknya dari pernyataan polisi<br />
yang diterima tanpa verifikasi.</p>
<p>Saya bisa memahami dan bersimpati pada kesulitan Siska, atau wartawan<br />
lain, untuk menyatukan puzzle  itu.</p>
<p>Di tengah  bombardemen klaim-klaim polisi, media sebenarnya keteteran<br />
melakukan verifikasi, bahkan jika mau melakukannya. Suatu hal yang<br />
semestinya kita akui saja secara terbuka dan jujur kepada pembaca/pemirsa.</p>
<p>Ada banyak sekali yang perlu diverifikasi. Dalam metode critical<br />
thinking, kita bahkan sebenarnya layak untuk mempertanyakan &#8220;bukti<br />
forensik&#8221; polisi, misalnya, sesuatu yang selama ini &#8220;terpaksa&#8221; kita<br />
terima karena.</p>
<p>Kita (baik saya, Siska maupun wartawan lain) jelas tak memiliki akses<br />
ke laboratorium, untuk menguji beberapa pertanyaan dasar, seperti:</p>
<p>- Apa sih sebenarnya bom yang meledak di Bali? Benarkah itu bom pupuk<br />
yang dibeli Amrozi di Surabaya, seperti kata polisi?</p>
<p>- Bagaimana kepala Asmar Latin Sani bisa ditemukan utuh di kamar Hotel<br />
Marriott?</p>
<p>- Peluru apa sih yang membunuh Azahari di Batu? Dia ditembak atau<br />
bunuh diri?</p>
<p>- Apa yang sebenarnya terjadi di Wonosobo? Sebuah baku tembak  atau<br />
pembantaian  sepihak oleh polisi?</p>
<p>Dan masih ada seribu satu pertanyaan serupa lagi, mengingat ada<br />
ratusan penangkapan dalam lima tahun terakhir.</p>
<p>Terlalu banyak misteri dan kemungkinan, seperti yang tersirat dalam<br />
jawaban Siska sendiri. Saya kira cukup wajar jika kita bertanya:</p>
<p>Dalam situasi yang serba mungkin itu kenapa polisi demikian yakin<br />
dengan satu temuan tunggal, bahwa teror bom dilakukan Jemaah Islamiyah<br />
yang omnipotent dan omnipresent?</p>
<p>Polisi, dan khususnya Detasemen 88, tidak menginginkan transparansi<br />
dan akuntabilitas, bahkan untuk sesuatu urusan yang jelas. Pekan ini,<br />
misalnya, Kapolri mengatakan &#8220;kontroversi penembakan Abu Dujana tak<br />
perlu dikembangkan karena yang kita tangkap adalah teroris!&#8221;</p>
<p>Kata &#8220;teroris&#8221; seakan bisa membenarkan apa saja yang mau dilakukan<br />
polisi. Sebuah sikap tidak transparan dan tidak akuntabel. Sangat<br />
potensial mengandung penyalahgunaan kekuasaan dan  manipulasi.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">MOTIF, MOTIF DAN  MOTIF</span></p>
<p>Dari komik &#8220;Detektif Conan&#8221; anak-anak, saya belajar bahwa setiap<br />
penyidikan TKP (crime scene investigation) memiliki beberapa elemen:<br />
pelaku, bukti (forensik, balistik maupun kesaksian), dan motif.</p>
<p>Sir Arthur Conan Doyle, pereka detektif terkenal Sherlock Holmes,<br />
mengatakan &#8220;motif, motif dan motif&#8221;. Motif merupakan elemen terpenting<br />
dalam investigasi, kadang lebih penting dari pengakuan dan kesaksian,<br />
untuk mengungkap siapa pelaku kejahatan. Siapa paling diuntungkan oleh<br />
sebuah kejahatan?</p>
<p>Saya, misalnya, bisa saja mengaku membunuh, tapi jika pembunuhan itu<br />
tidak bisa dijelaskan motifnya, tetap ada sebuah lubang menganga yang<br />
membuat investigasi tidak tuntas. Namun, pada saat yang sama,<br />
kecocokan motif saja tidak otomatis membuat seorang tertuduh pastilah<br />
telah berbuat kejahatan.</p>
<p>Mengkaji motif kejahatan memiliki makna penting di sisi lain. Dia<br />
menjadi bahan pembelajaran bagi publik untuk  mencegah kejahatan  serupa<br />
terjadi. Sebagai contoh: jika terlalu banyak orang membunuh karena<br />
faktor ekonomi, misalnya, meski pembunuhan itu sendiri tidak bisa<br />
dibenarkan, masyarakat disadarkan tentang pentingnya memperbaiki<br />
kondisi perekonomian.</p>
<p>Absennya motif, yang bisa dijelaskan secara tuntas dalam berbagai<br />
peristiwa teror bom di Indonesia, yang paling membuat saya ragu teror<br />
ini dilakukan dengan motif agama atau politik.</p>
<p>Ada beberapa point penting dari jawaban Siska yang perlu dibahas,<br />
sebagian saya menyetujuinya, sebagian lain tidak:</p>
<p><span style="font-weight:bold;">JEMAAH ISLAMIYAH, SUNGKAR DAN BAASYIR</span></p>
<p>Siska:</p>
<p>- Jemaah Islamiyah itu ada, didirikan di Malaysia oleh Abdullah<br />
Sungkar, teman Abu Bakar Baasyir.<br />
- JI bukan organisasi yang berorientasi teror.</p>
<p>Farid Gaban:</p>
<p>Saya sedikit banyak tahu tentang Sungkar dan Baasyir sejak SMP,<br />
terutama dari paman saya yang pernah terlibat dalam gerakan mereka. Di<br />
zaman Orde Baru,  setelah Sungkar dan  Baasyir lari ke Malaysia akibat<br />
prosekusi pemerintahan, paman saya ini tiga tahun mendekam di penjara<br />
untuk sebuah tuduhan teror yang tak pernah dilakukannya. Dia masuk<br />
penjara ketika istrinya sedang hamil tua.</p>
<p>Abu Bakar Baasyir sendiri mengatakan JI tidak ada, atau setidaknya dia<br />
tidak merasa mendirikan organisasi itu. Paman saya juga tidak merasa<br />
menjadi anggota organisasi semacam itu.</p>
<p>Tapi, taruhlah saya lebih percaya pada Siska ketimbang Baasyir dan<br />
paman saya, pertanyaan pentingnya adalah benarkah JI secara<br />
organisatoris melakukan kejahatan seperti dituduhkan?</p>
<p>(Kita nanti akan membahas lagi hal ini di pertanyaan nomor dua).</p>
<p>Meski Siska mengatakan JI bukan organisasi berorientasi teror, saya<br />
melihat Siska membuat kesimpulan/kaitan yang jumping ketika<br />
menjelaskan sepak terjang Sungkar dan Baasyir (30 tahun lalu) dengan<br />
aksi teror di Indonesia pasca-reformasi, dan secara  tersirat<br />
menyimpulkan ini punya korelasi  kejahatan yang langsung.</p>
<p>Siska benar ketika mengatakan Gerakan Abdullah Sungkar adalah<br />
memperjuangkan negara Islam, atau tegaknya Syariah Islam.</p>
<p><span style="font-style:italic;">Tapi, apakah itu sebuah kejahatan?</span></p>
<p>Saya pribadi tidak setuju pandangan politik dan keislaman Sungkar,<br />
Baasyir dan paman saya, tapi saya tidak bisa menganggap gerakan mereka<br />
itu sebagai kejahatan. Sama halnya saya tidak akan menganggap orang<br />
yang berjuang untuk tegaknya provinsi Kristen, kapitalisme, sosialisme<br />
dan komunisme di Indonesia adalah orang yang dengan sendirinya kriminal.</p>
<p>Di zaman Orde Baru, &#8220;mendirikan Negara Islam/Syariah&#8221; adalah<br />
kejahatan. Baik Sungkar maupun Baasyir diprosekusi bukan karena<br />
tindakan kriminal, tapi karena pandangan politiknya. Itu sendiri sudah<br />
merupakan ketidakadilan Orde Baru. Sungkar, Baasyir dan paman saya<br />
adalah korban dari teror negara.</p>
<p>Seperti Siska juga tahu, banyak orang Islam Indonesia, tidak hanya<br />
dari  Kelompok Sungkar,  bersimpati kepada Muslim Afghanistan di bawah<br />
pendudukan Soviet, atau pejuang Moro di Mindanau, atau pejuang<br />
Palestina di Israel.</p>
<p>Banyak dari mereka, tak hanya Kelompok Sungkar, juga bersedia<br />
berangkat untuk berperang, meski saya meragukan ketrampilan perang<br />
mereka. (Seorang alumni Afghanistan mengatakan kepada saya, mujahid<br />
dari Indonesia tidak pernah memiliki posisi yang penting di sana).</p>
<p>Bagaimanapun, saya tidak menganggap bersimpati, berperang,di<br />
Afghanistan atau di Mindanau merupakan kejahatan, terutama kejahatan<br />
yang bisa dijerat dengan KUHP Indonesia.</p>
<p>Siska menganggap itu sebagai kejahatan?</p>
<p>Lebih dari itu, berjuang di Afghanistan atau Moro (di satu pihak) dan<br />
melakukan teror di Indonesia (di lain pihak) adalah dua hal yang tidak<br />
ada hubungannya, terutama jika kita melihatnya dari segi hukum.</p>
<p>Jika seseorang dituduh melakukan teror di Indonesia, kita tidak bisa<br />
otomatis mengatakan  yakin mereka melakukan  itu hanya karena mereka<br />
pernah ke Afghanistan atau Mindanau.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">AMBON-POSO DAN TEKNIK PIVOT DALAM PROPAGANDA</span></p>
<p>Menurut saya, kita perlu berhati-hati dengan serpihan-serpihan fakta<br />
itu dan tidak membuat kaitan secara gampangan.</p>
<p>Sebab, di tingkat inilah, bukan fakta lapangan, sebenarnya propaganda<br />
bekerja. Dalam propaganda dikenal teknik &#8220;pivot&#8221;, sebuah analogi dalam<br />
bidang mekanika mesin. Teknik ini mengkaitkan berbagai hal yang<br />
mengorbit ke sebuah simpul (A pivot is that on which something turns).<br />
Kaitan ini tidak dinyatakan secara eksplisit tapi karena diulang<br />
terus-menerus akhirnya diterima oleh audiens sebagai korelasi langsung.</p>
<p>&#8220;Teror&#8221; adalah pivot itu, sebuah kata yang membundel beberapa kata<br />
kunci seperti &#8220;Jemaah Islamiyah, Al Qaedah, Afghanistan, Irak, Moro,<br />
Ambon, Poso, negara Islam, Syariah&#8221; seolah-olah semua kata itu<br />
memiliki kaitan langsung dan otomatis.</p>
<p>Tentang Poso atau Ambon,  walaupun saya pribadi  lebih suka ada<br />
penyelesaian hukum dan politik yang komprehensif, saya tak bisa<br />
menyalahkan begitu saja sebagian orang Muslim yang bersimpati atau<br />
berperang di pihak Muslim. Sama halnya, saya tidak bisa begitu saja<br />
menyalahkan orang Kristen yang bersimpati atau berperang di pihak Kristen.</p>
<p>Konflik Ambon-Poso adalah konflik lokal yang tidak segera dibereskan.<br />
Dalam spiral kekerasan seperti itu, konfrontasi antar penganut agama<br />
tidak terhindarkan. Suatu hal yang menyedihkan, meski sebenarnya bisa<br />
dihindari lebih awal.</p>
<p>Tapi, dalam berbagai pernyataan lima tahun terakhir ini polisi<br />
mengkaitkan hampir secara langsung antara konflik di Ambon dan Poso<br />
dengan Jemaah Islamiyah, karenanya dengan teror, dan sebaliknya.</p>
<p>Ada kecenderungan di sini polisi ingin menutupi ketidakmapuannya<br />
menyelesaikan konflik sejak awal dengan mereduksi fenomena itu sebagai<br />
&#8220;teror Islam&#8221;. Juga ada kecenderungan untuk mengesankan bahwa  hanya<br />
simpati  orang muslim sajalah yang merupakan teror, sementara<br />
sebaliknya, dari kalangan Kristen, bukan teror.</p>
<p>Beberapa tahun lalu, Paul Wolfowitz (waktu itu Wakil Menteri<br />
Pertahanan Amerika) dan Kepala BIN Hendropriyono mengatakan Al Qaedah<br />
memiliki kamp latihan militer di Poso.</p>
<p>Di sini propaganda masuk ke level internasional. Ditambah lagi<br />
kampanye beberapa pendeta Kristen Amerika, yang menyebut kasus Poso<br />
sebagai &#8220;Christian Holocaust&#8221;, maka lengkaplah: Al Qaedah, Jemaah<br />
Islamiyah, teror dan &#8220;pembantaian sistematis terhadap orang Kristen&#8221;.</p>
<p>Mereduksi kasus Ambon dan Poso sebagai fenomena &#8220;teror Islam&#8221; atau<br />
&#8220;teror Al Qaedah&#8221; justru akan menjauhkan kita dari kemungkinan bisa<br />
memahami akar sebenarnya konflik itu, dan menghalangi kita bisa<br />
mencegah konflik serupa berulang di masa mendatang atau di tempat lain.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">KETERLIBATAN JI SECARA ORGANISATORIS</span></p>
<p>Siska:</p>
<p>- Teror di Indonesia tidak dilakukan secara  organisatoris oleh  JI.<br />
- Oleh karenanya, teror itu tidak bisa disebut terorisme JI.<br />
- JI tidak sekuat yang dibayangkan media Barat (suatu jaringan<br />
terorisme Asia tenggara).<br />
- Tidak pernah ada satu garis komando khusus di JI.<br />
- Tidak ada tokoh aktivis JI yang track record dan signifikansinya<br />
dalam gerakan Islam kita kenali.</p>
<p>Farid Gaban:</p>
<p>Saya kira ini point terpenting dari kesimpulan penelusuran Siska. Saya<br />
juga punya kesimpulan sama: tidak ada kaitan antara teror di Indonesia<br />
dengan Jemaah Islamiyah (Gerakan Sungkar dan Baasyir) sebagai organisasi.</p>
<p>Itulah sebabnya, saya menilai upaya yang gegap-gempita, dari polisi<br />
Indonesia dan Pemerintah Amerika/Australia, untuk mengkaitkan bom-bom<br />
teror di sini dengan &#8220;Jemaah Islamiyah bin Al Qaedah&#8221; adalah tindakan<br />
manipulatif, dan sarat dengan propaganda.</p>
<p>Manipulatif dan sarat propaganda pula usaha untuk mengesankan bahwa<br />
Jemaah Islamiyah (Gerakan Sungkar/Baasyir) adalah  sebuah  organisasi<br />
yang rapi, terstruktur, dengan satu komando khusus, omnipotent dan<br />
omnipresent.</p>
<p>Struktur organisasi Jemaah Islamiyah seperti yang dimuat oleh Harian<br />
Kompas dan Majalah Tempo pekan lalu adalah struktur yang direka<br />
polisi. Kompas dan Tempo hanya memperkuat propaganda polisi.</p>
<p>Media Barat pun sebenarnya hanya menerima frame, tanpa verifikasi,<br />
dari statement Departemen Luar Negeri Amerika, yang bisa kita baca<br />
dalam website-nya, bahwa &#8220;Jemaah Islamiyah adalah organisasi yang<br />
ingin mendirikan Kekhalifahan Islam se-Asia Tenggara dengan cara teror&#8221;.</p>
<p>Statement Amerika ini diperkuat oleh &#8220;publicity stunt&#8221; polisi Indonesia.</p>
<p>Adegan penggerebegan di Bandung, Batu (Malang), Wonosobo dan terakhir<br />
penangkapan Abu Dujana adalah adegan yang penuh &#8220;heroisme&#8221; dan<br />
menggunakan kekuatan eksesif untuk memberi kesan bahwa yang ditangkap<br />
dan dibunuh adalah orang-orang yang terlatih, bomb-loaded, cerdik,  dan<br />
sangat berbahaya,  kaliber internasional (&#8220;Asia Tenggara&#8221;).</p>
<p>Siska menyebut itu sebagai kebodohan polisi, saya justru melihatnya<br />
sebagai kecerdikan polisi dalam memanipulasi publik.</p>
<p>Setiap kali penangkapan, polisi mengumumkan &#8220;buron nomor satu&#8221; untuk<br />
memberi kesan penting: pertama Baasyir, lalu Azahari, terus Noordin<br />
Top, kini Zarkasih, dan terakhir Abu Dujana.</p>
<p>Semua &#8220;buron nomor satu&#8221;, meski dalam beberapa kasus yang<br />
ditangkap/dibunuh adalah orang yang sehari-hari bekerja menjadi<br />
penjahit, guru atau penjual kelontong keliling, dan dengan tuduhan<br />
sesederhana &#8220;menyembunyikan tersangka teroris&#8221;.</p>
<p>Setiap kali penggerebekan, polisi juga cerdik sekali memanfaatkan<br />
televisi, terutama ANTV, sehingga wartawan sekaliber Siska pun<br />
terkecoh melihat aksi polisi sebagai aksi teroris Azahari. (Kata<br />
Siska: &#8220;Kita liat sendiri aksi heroik Azahari itu di ANTV.&#8221;)</p>
<p>Dalam tayangan ANTV itu, seingat saya, pemirsa tidak pernah  melihat<br />
Azahari dalam  keadaan hidup. Yang kita lihat adalah kesibukan para polisi.</p>
<p>Demikian pula ketika polisi menggerebeg &#8220;teroris Wonosobo&#8221;, yang juga<br />
ditayangkan secara &#8220;live&#8221; oleh ANTV. Mengamati langsung lokasi<br />
penggerebegan dan mewawancara beberapa saksi di lapangan, saya<br />
menyimpulkan, polisi jika mau bisa melumpuhkan tersangka (sekali lagi<br />
tersangka) tanpa harus membunuhnya.</p>
<p>Tapi, yang dilakukan polisi adalah sebuah aksi heroik untuk memberi<br />
kesan ada perlawanan maut dari dalam, meski dilihat secara seksama<br />
tayangan ANTV itu sendiri bahkan tidak menunjukkan adanya perlawanan.</p>
<p>Penggerebegan yang heroik ini selalu menjadi perhatian media<br />
internasional yang pada gilirannya memberi kesempatan kepada John<br />
Howard dan George Bush untuk tampil pula menjadi pahlawan bagi<br />
publiknya, menunjukkan &#8220;bukti otentik&#8221; keberadaan &#8220;Jemaah Islamiyah<br />
bin Al Qaedah&#8221; dan karenanya memberi justifikasi pendudukan Irak  dan<br />
Afghanistan.</p>
<p>Teknik Pivot. Al  Qaedah, Jemaah Islamiyah, teror, Afghanistan, Irak,<br />
Moro, Poso, Ambon, dan syariah.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">MOTIF POLITIK TEROR BOM</span></p>
<p>Siska:</p>
<p>- Susah dijawab pertanyaan apakah aksi teror di Indonesia sesuai<br />
dengan motif politik JI.<br />
- Awalnya para aktivis JI dalam fase kebingungan, sebab<br />
setelah Sungkar organisasi ini hilang kendali. Baasyir yang ditunjuk<br />
sebagai pengganti Sungkar, tidak terlalu tegas.</p>
<p>Farid Gaban:</p>
<p>Terlalu banyak kemungkinan bisa terjadi dari &#8220;para aktivis yang<br />
bingung&#8221; dan sebuah organisasi yang &#8220;hilang kendali&#8221; (30 tahun lalu).<br />
Terlebih lagi jika organisasi itu &#8220;tidak memiliki sistem komando<br />
khusus&#8221;. Random.</p>
<p>Siska mengatakan para aktivis JI kontemporer kemungkinan dipengaruhi<br />
oleh fatwa Usamah bin Laden. Tapi, menurut saya, ini kaitan yang<br />
jumping kecuali di awal kita sudah punya anggapan (yang menurut saya<br />
prematur) bahwa Jemaah Islamiyah adalah organisasi cabang Al Qaedah di<br />
Asia  Tenggara.</p>
<p>Saya  tidak mau berspekulasi di sini, karena saya pun tidak tahu persis<br />
motif politik teror-teror bom yang Siska sebut dilakukan oleh &#8220;aktivis<br />
yang bingung&#8221;, dalam organisasi yang &#8220;hilang kendali&#8221; (30 tahun lalu)<br />
dan &#8220;tidak memiliki komando khusus&#8221; itu.</p>
<p>Ada terlalu banyak kemungkinan di sini. Perlu ada satu sesi<br />
investigasi lain.</p>
<p>Satu-satunya kesimpulan yang bisa ditarik sekarang ini: meski ada<br />
banyak pertanyaan tak terjawab, jelas sekali ada UPAYA SENGAJA untuk<br />
merujuk hanya ke sebuah kesimpulan saja, bahwa ini dilakukan Jemaah<br />
Islamiyah, suatu hal yang Siska sendiri tidak setujui.</p>
<p><span style="font-weight:bold;">PERTANYAAN SELEBIHNYA DAN SEBUAH TARUHAN BESAR</span></p>
<p>Saya tidak melihat Siska punya jawaban pasti terhadap pertanyaan<br />
selebihnya. Saya pun tidak. Kita sama-sama tidak memiliki akses<br />
independen pada bukti-bukti keras (hard evidences). Yang ada hanya<br />
bukti tak langsung (circumstansial evidences), itupun sebagian besar<br />
dimonopoli  polisi.</p>
<p>Jika  saya menulis tentang hal ini, saya akan mengaku terus terang<br />
kepada pembaca bahwa ada banyak hal yang &#8220;unverified&#8221; dan &#8220;yet to be<br />
verified&#8221; dalam kasus terorisme di Indonesia.</p>
<p>Saya tidak ingin menjadi sok tahu dalam hal ini.</p>
<p>Beberapa bulan lalu kita ingat kasus jatuhnya Adam Air. Mengutip<br />
sebuah klaim yang tanpa verifikasi, seluruh media lokal dan<br />
internasional, terkecoh tentang lokasi jatuhnya pesawat yang ternyata<br />
bukan.</p>
<p>Memberitakan secara gegabah klaim polisi dalam kasus terorisme punya<br />
taruhan yang lebih besar dan berbahaya ketimbang klaim berita kecelakaan:</p>
<p>- Potensial memperuncing ketegangan antar-agama<br />
- Menjustifikasi penindasan hak asasi manusia<br />
- Menjustifikasi manipulasi dan penyalahgunaan kekuasaan</p>
<p>Terlalu besar taruhannya bagi bangsa ini.</p>
<p>Salam,<br />
Farid Gaban</p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p>dicontek dari: <a href="http://jkuorg.blogspot.com" target="_blank">http://jkuorg.blogspot.com</a></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak08.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak08.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=3&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/05/11/teka-teki-terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak08</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam Demokratis Sipil: Mitra, Sumberdaya dan Strategi</title>
		<link>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/05/05/islam-demokratis-sipil-mitra-sumberdaya-dan-strategi/</link>
		<comments>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/05/05/islam-demokratis-sipil-mitra-sumberdaya-dan-strategi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 13:39:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jalansetapak08</dc:creator>
				<category><![CDATA[Orientalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>
		<category><![CDATA[Cheryl Benard]]></category>
		<category><![CDATA[Civil Democratic Islam]]></category>
		<category><![CDATA[dunia Islam]]></category>
		<category><![CDATA[fundamentalis]]></category>
		<category><![CDATA[fundamentalisme]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Demokratis]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Demokratis Sipil]]></category>
		<category><![CDATA[Islam kontemporer]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Sipil]]></category>
		<category><![CDATA[Islam Sipil Demokratis]]></category>
		<category><![CDATA[kepentingan AS]]></category>
		<category><![CDATA[kepentingan Barat]]></category>
		<category><![CDATA[modernis]]></category>
		<category><![CDATA[modernisme]]></category>
		<category><![CDATA[RAND]]></category>
		<category><![CDATA[RAND Corporation]]></category>
		<category><![CDATA[sekularis]]></category>
		<category><![CDATA[sekularisme]]></category>
		<category><![CDATA[sekuler]]></category>
		<category><![CDATA[tradisionalis]]></category>
		<category><![CDATA[tradisionalisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Karena itu tampaknya cukup bijaksana untuk mendorong elemen-elemen di dalam campuran Islam yang paling cocok dengan perdamaian dunia dan masyarakat internasional serta bersikap ramah terhadap demokrasi dan modernitas. Namun demikian, mengidentifikasi elemen-elemen tersebut dan menemukan cara yang paling sesuai untuk bekerjasama dengan mereka tidak selalu mudah.<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=1&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Cambria;"><a name="_ftnref1" href="#_ftn1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Cambria;"><span><!--[endif]--></span></span></span></a></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-family:Cambria;">Cheryl Benard</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span style="font-size:14pt;font-family:Cambria;color:#404040;"> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>Ringkasan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Tidak dipertanyakan lagi bahwa Islam kontemporer berada dalam keadaan yang bergejolak, mengalami pertentangan internal dan eksternal dalam nilai-nilai, identitas dan tempatnya dalam dunia. Berbagai versi yang bersaing bertanding untuk meraih dominasi spiritual dan politis. Konflik ini memiliki beban ekonomi, sosial, politik dan keamanan yang besar bagi seluruh dunia. Sejalan dengan itu, Barat kini meningkatkan usaha untuk mencari titik temu, memahami dan mempengaruhi pertentangan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Jelas, Amerika Serikat, dunia industri modern, dan tentu saja masyarakat internasional secara keseluruhan lebih memilih sebuah dunia Islam yang selaras dengan sistem lainnya: demokratis, berjalan secara ekonomis, stabil secara politis, progresif secara sosial, dan mengikuti aturan-aturan serta norma-norma internasional yang berlaku. Mereka juga ingin mencegah suatu “benturan peradaban” dalam seluruh variannya yang mungkin—mulai peningkatan keresahan domestik yang yang disebabkan oleh konflik diantara minoritas muslim dan penduduk “pribumi” di Barat sampai peningkatan militansi di seantero dunia muslim beserta akibat-akibatnya, instabilitas dan terorisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Karena itu tampaknya cukup bijaksana untuk mendorong elemen-elemen di dalam campuran Islam yang paling cocok dengan perdamaian dunia dan masyarakat internasional serta bersikap ramah terhadap demokrasi dan modernitas. Namun demikian, mengidentifikasi elemen-elemen tersebut dan menemukan cara yang paling sesuai untuk bekerjasama dengan mereka tidak selalu mudah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Krisis Islam saat ini mencakup dua komponen utama: kegagalan untuk maju dan kehilangan hubungan dengan arus utama dunia. Dunia Islam telah ditandai dengan periode panjang keterbelakangan dan ketakberdayaan komparatif; berbagai solusi yang berbeda, seperti nasionalisme, pan-Arabisme, sosialisme Arab, dan revolusi Islam, telah dicoba tanpa keberhasilan, dan keadaan ini mengantarkan kepada frustasi dan kemarahan. Pada saat yang sama, dunia Islam telah jauh tertinggal dari kebudayaan global kontemporer, sebuah situasi yang tidak nyaman bagi kedua belah pihak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Kaum muslim tidak memiliki kesepakatan atas apa yang harus dilakukan dengan situasi ini, dan mereka juga tidak bersepakat dalam hal seperti apa masyarakat mereka seharusnya. Kita dapat membedakan empat posisi mendasar:</span></p>
<p><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;"><br />
</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>• Fundamentalis </span></strong><span>yang<strong> </strong>menolak nilai-nilai demokratis dan kebudayaan Barat kontemporer. Mereka menginginkan sebuah negara yang otoritarian dan puritan yang akan mengimplementasikan pandangan ekstrim mereka akan hukum dan moralitas Islam. Mereka bersedia untuk menggunakan inovasi dan teknologi modern untuk mencapai tujuan mereka</span><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>• Traditionalis </span></strong><span>yang<strong> </strong>menging</span><span>inkan masyarakat konservatif. Mereka mencurigai modernitas, inovasi, dan perubahan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>• Modernis </span></strong><span>yang</span><span> menginginkan dunia Islam menjadi bagian dari modernitas global. Mereka ingin memodernisasi dan mereformasi Islam serta membawanya selaras dengan zaman.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>• Sekularis </span></strong><span>yang menginginkan dunia Islam menerima pemisahan gereja dan negara sebagaimana demokrasi negara-negara industrial Barat, dengan menurunkan agama ke dalam wilayah privat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Kelompok-kelompok ini dengan jelas mengambil posisi yang berbeda-beda pada isu-isu mendasar yang telah menjadi perdebatan dalam dunia Islam hari ini, termasuk masalah-masalah kebebasan politis dan individual, pendidikan, status perempuan, peradilan kriminal, legitimasi reformasi dan perubahan, dan sikap menghadapi Barat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Kaum </span><strong><span>fundamentalis </span></strong><span>bersikap bermusuhan terhadap Barat dan khususnya kepada Amerika Serikat serta bermaksud untuk menyeimbangkan kedudukan, dalam menghancurkan modernitas yang demokratis. Mendukung mereka bukanlah pilihan, kecuali untuk pertimbangan-pertimbangan taktis sementara. Sedangkan kaum <strong>tradisionalis</strong> pada umumnya memiliki pandangan yang lebih moderat, tetapi terdapat perbedaan-perbedaan signifikan diantara kelompok-kelompok tradisionalis. Sebagian diantaranya dekat dengan kaum fundamentalis. Di samping itu, tidak ada yang dengan sepenuh hati menyambut demokrasi modern dan budaya juga nilai-nilai modernitas, dan, paling maksimal, Barat hanya dapat membuat perdamaian yang rentan dengan mereka</span><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Kaum </span><strong><span>modernis </span></strong><span>d</span><span>an </span><strong><span>sekularis </span></strong><span>adalah yang paling dekat dengan Barat dalam hal nilai-nilai dan kebijakan. Namun demikian, mereka pada umumnya berada pada posisi yang lebih lemah daripada kelompok-kelompok yang lain, kurang dukungan yang kuat, sumber-sumber pendanaan, infrastruktur yang efektif, dan panggung publik. Kaum <strong>sekularis</strong>, selain sewaktu-waktu tidak dapat diterima sebagai sekutu pada basis afiliasi ideologis mereka yang lebih luas, juga sulit dihubungkan dengan sektor tradisional pendengar Islami.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Islam orthodoks tradisional terdiri dari elemen-elemen demokratis yang dapat digunakan untuk melawan Islam otoritarian yang represif dari kaum fundamentalis, tetapi kelompok ini tidak cocok untuk menjadi kendaraan utama Islam demokratis. Peran itu jatuh kepada kaum modernis, yang bagaimanapun, efektivitasnya telah dibatasi oleh sejumlah ketidakleluasaan, yang akan diuraikan laporan ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><span>Untuk mendorong perubahan positif dunia Islam dalam menghadapi demokrasi yang lebih besar, modernitas, dan kesesuaian dengan tata dunia internasional, Amerika Serikat dan Barat perlu mempertimbangkan dengan hati-hati elemen, kecenderungan, dan kekuatan-kekuatan dalam Islam mana yang akan mereka perkuat; apa tujuan-tujuannya dan </span><span>beragam nilai</span><span>-nilai sekutu dan <em>protégés<a name="_ftnref2" href="#_ftn2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><strong><span style="font-size:11pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">[2]</span></strong></span><!--[endif]--></span></span></span></a></em> potensial mereka yang sebenarnya; serta akan seperti apa konsekuensi-konsekuensi lebih lanjut dari memajukan agenda mereka masing-masing. Sebuah pendekatan campuran dari beberapa elemen berikut mungkin adalah yang paling efektif:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;text-align:justify;line-height:normal;"><strong><span>• Mendukung kelompok modernis terlebih dahulu:</span></strong></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menerbitkan dan mendistribusikan karya-karya mereka dengan harga yang disubsidi.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mendorong mereka untuk menulis bagi khalayak pembaca dan kalangan muda.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mengenalkan pandangan-pandangan mereka ke dalam kurikulum pendidikan Islam.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Memberi mereka panggung publik.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Menyebarkan pandangan dan penilaian mereka atas pertanyaan-pertanyaan fundamental terhadap penafsiran agama kepada khalayak pembaca untuk menandingi kaum fundamentalis dan tradisionalis, yang memiliki situs-situs Web, penerbitan, sekolah, lembaga, dan berbagai kendaraan lainnya untuk menyebarkan pandangan-pandangan mereka.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Tempatkan sekularisme dan modernisme sebagai sebuah pilihan <em>“counterculture”</em> bagi kaum muda Islam.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Memfasilitasi dan mendorong suatu kesadaran atas sejarah serta kebudayaan pra- dan non-Islam mereka, dalam media dan kurikulum negara-negara terkait.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.5pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.55pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Membantu pembangunan organisasi-organisasi sipil independepen, untuk mempromosikan kebudayaan sipil dan menyediakan ruang bagi warga biasa untuk mendidik diri mereka sendiri mengenai proses-proses politik serta untuk mengartikulasikan pandangan-pandangan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;line-height:normal;"><strong><span>• Mendukung kelompok tradisionalis melawan fundamentalis:</span></strong></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mempublikasikan kritik-kritik kalangan tradisionalis terhadap kekerasan dan ekstrimisme kelompok fundamentalis; mendorong pertentangan diantara kaum tradisionalis dan fundamentalis.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mendorong kerjasama antara kelompok modernis dan tradisionalis yang lebih dekat dengan spektrum akhir modernis.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mendidik kalangan tradisionalis dalam mempersiapkan diri mereka untuk perdebatan-perdebatan melawan fundamentalis. Kaum fundamentalis seringkali lebih unggul secara retoris, sedangkan kalangan tradisionalis merupakan “rakyat Islam” yang secara politis sulit berbicara. Di tempat-tempat seperti Asia Tengah, mereka mungkin perlu dididik dan dilatih dalam tradisi Islam orthodoks agar bisa menegakkan kedudukan mereka.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Meningkatkan keberadaan dan penampilan kaum modernis dalam lembaga-lembaga tradisionalis.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.5pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.55pt;"><!--[if !supportLists]--><span> <span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mendiskriminasi sektor-sektor tradisionalisme yang berbeda. Mendorong kelompok-kelompok yang memiliki ketertarikan lebih besar kepada modernitas, seperti mazhab Hanafi, melawan yang lain. Mendorong mereka untuk menerbitkan pendapat-pendapat keagamaan dan mempopulerkannya untuk melemahkan otoritas kekuasaan keagamaan Wahhabiyah yang terbelakang. Hal ini terkait dengan pendanaan: Uang Wahhabi mengalir untuk mendukung mazhab Hanbali yang konservatif. Hal ini juga terkait dengan pengetahuan: Belahan dunia muslim yang lebih terbelakang tidak menyadari perkembangan dalam pelaksanaan dan penafsiran hukum Islam.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.5pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.55pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mendorong popularitas dan penerimaan terhadap Sufisme.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;line-height:normal;"><span>• <strong>Mengkonfrontasi</strong></span><strong><span> dan melawan kaum fundamentalis:</span></strong></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Meragukan penafsiran mereka atas Islam dan mempublikasikan kekeliruan mereka.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Memunculkan keterkaitan mereka dengan kelompok-kelompok dan aktivitas-aktivitas illegal.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mempublikasikan akibat-akibat dari tindakan kekerasan mereka.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Menunjukkan ketidakmampuan mereka untuk berkuasa, dalam mencapai pembangunan positif bagi negara-negara dan masyarakat mereka.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Menyampaikan pesan ini terutama kepada kaum muda, warga tradisionalis yang saleh, minoritas muslim di Barat, dan kaum perempuan.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Menghindari menunjukkan penghargaan atau kekaguman atas kekuatan kekerasan ekstrimis dan teroris fundamentalis. Sebut mereka mengganggu serta pengecut, dan bukannya pahlawan yang jahat.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Mendorong para jurnalis untuk menyelidiki masalah-masalah korupsi, hipokrisi, dan immoralitas di lingkaran-lingkaran fundamentalis dan teroris.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.5pt;line-height:normal;margin:0 0 6pt 21.55pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><!--[endif]--><span>Mendorong perpecahan di antara kaum fundamentalis.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:6pt;line-height:normal;"><strong><span>• Mendukung kelompok sekular secara selektif:</span></strong></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Mendorong diakuinya fundamentalisme sebagai musuh bersama, mencegah aliansi kaum sekuler dengan kekuatan-kekuatan anti-AS pada landasan semacam nasionalisme dan ideologi kiri.</span></p>
<p class="ListParagraph" style="text-align:justify;text-indent:-10.35pt;line-height:normal;margin:0 0 .0001pt 21.3pt;"><!--[if !supportLists]--><span><span>-<span style="font-style:normal;font-variant:normal;font-weight:normal;font-size:7pt;line-height:normal;"> </span></span></span><span>Mendukung gagasan bahwa agama dan negara juga dapat dipisahkan di dalam Islam serta bahwa hal ini tidak membahayakan keimanan, bahkan memperkuatnya. Pendekatan atau campuran pendekatan manapun yang dipilih, kami rekomendasikan bahwa pilihan tersebut dilaksanakan dengan pertimbangan yang hati-hati, dengan mengetahui bobot simbolik masalah tertentu; maknanya dapat diartikan sebagai kesamaan para pengambil kebijakan AS dengan posisi-posisi tertentu dalam isu-isu ini; konskwensi kesamaan ini bagi para aktor Islam yang lain, termasuk resiko yang membahayakan atau mendiskreditkan kelompok-kelompok tersebut dan orang-orang yang kita mintai bantuan; juga beban peluang serta kemungkinan akibat-akibat yang tidak diharapkan dari afiliasi dan sikap yang mungkin tampak pantas dalam jangka pendek.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom:.0001pt;line-height:normal;"><span> </span></p>
<div>
<hr size="1" /><!--[endif]--></p>
<div id="ftn1">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn1" href="#_ftnref1"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">[1]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> Diterjemahkan dari bagian Summary: <a title="RAND" href="http://www.rand.org/pubs/monograph_reports/MR1716/" target="_blank"><strong>Civil Democratic Islam: Partners, Resources, and Strategies</strong></a>, hal. ix-xii, penulis: Cheryl Benard. Dipublikasikan kembali dengan tanpa seijin penerbit: RAND Corporation ^^V</p>
</div>
<div id="ftn2">
<p class="MsoFootnoteText"><a name="_ftn2" href="#_ftnref2"><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-family:Calibri;"><span><!--[if !supportFootnotes]--><span class="MsoFootnoteReference"><span style="font-size:10pt;line-height:115%;font-family:Calibri;">[2]</span></span><!--[endif]--></span></span></span></a> <span>Seseorang yang dipandu dan didukung oleh orang yang lebih tua dan lebih berpengalaman atau berpengaruh <span> </span>–<em>pent.</em></span></p>
</div>
</div>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/jalansetapak08.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/jalansetapak08.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=jalansetapak08.wordpress.com&amp;blog=3651122&amp;post=1&amp;subd=jalansetapak08&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://jalansetapak08.wordpress.com/2008/05/05/islam-demokratis-sipil-mitra-sumberdaya-dan-strategi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="" medium="image">
			<media:title type="html">jalansetapak08</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
