Wajah Baru Islam
Kritik atas Radikalisme di Jantung Dunia Islam
Christopher Dickey dan Owen Matthews
Newsweek, 31 Mei 2008
Di pertengahan 1990-an, Usamah bin Ladin terjerat masalah, dan masalahnya adalah Islam. Kepada para pengikutnya, dia berkata bahwa al-Quran mengijinkan pembunuhan terhadap orang-orang tak berdosa dan dan terhadap orang-orang muslim sendiri dengan alasan “jihad”. Itulah upayanya memberikan pembenaran atas kampanye teror global yang dilancarkannya. Namun pandangan dia sesungguhnya bertentangan dengan kitab suci kaum muslim, dan juga bertentangan dengan tafsir al-Quran yang ditulis para sarjana (ulama) dan da’i.
Maka bin Ladin memelintir wahyu yang terkandung dalam al-Quran. Ia pelintir juga perkataan Nabi Muhammad yang dikenal dengan Hadits, yang menjadi konteks sandaran bagi pengamalan ajaran Islam. Jutawan Saudi itu menulis kecaman tajam, yang dia sebut deklarasi perang, dan kemudian dia nyatakan sebagai fatwa atau dekrit keagamaan, sambil mencomot kutipan-kutipan dari Kitab Islam dan mengajak para ulama yang ragu mendukungnya. Risalah yang ditulisnya itu merupakan propaganda politik, bukan teologi, yang digarap dengan begitu baik agar mencapai sasaran. Ia promosikan gagasan keagamaan tentang perang suci, dan ia ejawantahkan pada 11 September, yang sekaligus menjadi visi Islam dominan bagi mereka yang memiliki sedikit pemahaman keimanan, baik di Barat maupun di dunia Islam, sehingga banyak pula ulama yang terhasut.
Sekarang hal ini mulai berubah. Pemikir-pemikir muslim terkemuka, termasuk yang memberikan dukungan kuat kepada bin Ladin, telah menolak pandangan bin Ladin tentang jihad. Publik yang simpati di Timur Tengah dan Asia Selatan sempat tertipu. Sebagaimana dikatakan Direktur CIA Michael Hayden minggu lalu, “pada dasarnya, tidak ada yang benar-benar menyukai visi masa depan al-Qaeda.” Di saat yang sama, tengah terbentuk sebuah visi baru Islam yang lebih penting untuk jangka panjang, yang berbeda dengan pandangan bin Ladin ataupun para tradisionalis pendahulunya. Sebuah momentum tengah dibangun di dunia muslim untuk menguji-ulang apa yang telah dianggap sebagai rukun iman baku, untuk menentang apa yang telah diterima sebagai kebenaran-kebenaran literal, dan untuk membuka pintu-pintu interpretasi (ijtihad) yang telah coba ditutup oleh beberapa mazhab Islam berabad-abad yang lalu.
Sekelompok sarjana yang berbasis di Ankara Turki menggarap sejumlah karya teologi dan intelektual yang cukup ambisius. Mereka berharap menerbitkan edisi-edisi baru hadits sebelum akhir tahun. Mereka telah mengumpulkan 170.000 narasi perkataan nabi yang diketahui. Narasi-narasi tersebut diduga merupakan rekaman perkataan dan perbuatan Muhammad sebagai panduan hidup sehari-hari, sekaligus sebagai kunci untuk membuka sejumlah misteri dalam al-Quran. Tetapi di dalamnya terdapat banyak anekdot yang keluar dari konteks historis. Lagipula, orang-orang yang menyampaikan atau mencatat riwayat tidak selalu bisa diandalkan. Kadang-kadang mereka mencampurkan antara “nilai-nilai Islam universal dengan nilai-nilai geografis, kultural dan relijius dari jaman dan tempat hidupnya nilai-nilai itu,” ujar Mehmet Gormez, seorang profesor teologi di Universitas Ankara yang mengerjakan proyek itu. “Setiap narasi hadits memiliki sebuah konteks. Kami ingin memberikan kembali rumah bagi setiap narasi.”
Mehmet Aydin, yang pertama kali menyusun proyek hadits ini empat tahun silam, ketika menjabat menteri negara untuk urusan keagamaan Turki, menyatakan bahwa pada abad ke-7 atau pada masa Nabi, kehidupan jelas-jelas sangat berbeda. Ada satu hadits, misalnya, yang melarang wanita berpergian sendiri. Di Arab Saudi, hadits tersebut dan hadits-hadits lainnya dijadikan alasan wanita tidak boleh menyetir. “Ini tentu saja bukan larangan agama, melainkan nilai yang terkait dengan keamanan pada waktu dan tempat tertentu,” kata Gormez. Bahkan, di kesempatan lain Nabi menyatakan kerinduan akan masa-masa ketika wanita bisa berpergian sendiri dari Yaman ke Mekah. Dalam tiga abad awalnya, “Islam berinteraksi dengan kebudayaan Yunani, Iran dan India, dan pada setiap pertemuan [para ulama] mereinterpretasi Islam menurut kondisi yang baru,” lanjut Gormez. “Saat itu mereka tidak takut memikirkan kembali Islam.”
Para pemikir muslim liberal telah mengemukakan argumen serupa di masa lalu, tetapi posisi mereka berada di luar, dan seringkali tidak berposisi sebagai ahli ilmu agama. Di sisi lain, proyek Turki itu didukung oleh Partai AK yang berkuasa, sebuah partai dengan akar Islami yang terpilih secara demokratis dan paling berhasil di dunia. Para profesor yang terlibat dalam proyek itu segera menyangkal anggapan bahwa pekerjaan mereka mencerminkan sejenis Reformasi Islam—tidak ada Martin Luther di antara mereka, tidak ada tesis yang dibuang. Proyek ini mereka sebut “pemikiran kembali” atau “pemahaman kembali” teks-teks suci, “menurut konsep-konsep modern seperti demokrasi, hak asasi manusia, hak-hak wanita, dan nilai-nilai universal,” kata Gormez. Meski demikian, karya mereka memiliki potensi jangkauan yang luas, yang bersandar pada kredibilitas sumbernya.
Sejumlah negara semisal Pakistan atau Arab Saudi, yang memberi toleransi terhadap radikalisme di masa lalu, mulai melihat bahwa stabilitas sangatlah bergantung pada sikap moderat. Raja Arab Saudi Abdullah pun berubah sikap. Ia berupaya mengekang ekses dari semangat 10.000 imam yang digaji pemerintah. Pemerintah tidak sedang memikirkan kembali doktrin-doktrin dasar. Salahseorang penasehat raja yang tidak ingin disebut namanya, megatakan kepada NEWSWEEK, “katakanlah ada sebuah perdebatan teologis tentang bagaimana menyampaikan ide-ide dan nasehat mereka kepada publik.” Jika seorang wanita berpakaian agak tidak sopan menurut standar keagamaan Saudi, itu cukup dikatakan tanpa perlu menyebutnya perempuan sundal, atau tanpa mengancamnya dengan hukuman atau hal-hal yang lebih buruk. Ini dimaksudkan untuk meredam api yang memicu dan menginspirasi kaum muda Saudi mendaftar jihad di Irak dan tempat-tempat lainnya.
Di seluruh dunia muslim, tampaknya khalayak sudah siap dengan pesan baru ini. Kelas menengah yang berkembang tidak mau lagi menerima kesalehan hidup petani sebagai pedoman untuk tindakan publik dan pribadi. “Aturan-aturan agama tetap sama, tetapi sikap masyarakat terhadap agama telah berubah,” kata Perdana Menteri Turki Recep Tayyip Erdogan, yang pemerintahannya bekerja untuk membawa Turki ke dalam Uni Eropa. “Urbanisasi di negeri ini telah meningkatkan kesejahteraan dan pemahaman yang berbeda terhadap hidup.” Bahkan di Iran yang teokratik, polisi sering membatalkan pidato-pidato mullah Mohsen Kadivar yang berusia 49 tahun, karena menurut pihak berwenang, “pidato-pidatonya dapat mengakibatkan gangguan lalu-lintas dan publik di luar.” Pesan Kadivar? Bahwa sistem vilayat-e-faqih Iran, yang mencerminkan kewenangan seorang agamawan (cleric) untuk menyatakan kata-putus atas seluruh masalah kenegaraan, memiliki cacat yang fatal. “Sistem ini mencerminkan sentralisasi yang tidak demokratis terhadap interpretasi Islam,” ujar Kadivar. “Pemerintah harus dapat dipertanggungjawabkan kepada seluruh umat manusia yang hidup di bumi!”
Sementara resep bin Ladin untuk perubahan telah membawa kepada kematian dan kerusakan. Kaum radikal telah mengalihkan kemarahan dan bom-bom mereka terhadap muslim lainnya yang mereka anggap murtad atau tidak penting. Sebagai hasilnya, mereka menjadi terisolasi. Di Iraq, kekuatan Al-Qaeda terjerat dan tidak bisa dibedakan dari gangster. Di Pakistan, jajak pendapat menunjukkan bahwa dukungan masyarakat untuk bom bunuh-diri telah jatuh dari angka 30% lima tahun lalu, menjadi 9% hari ini. Dalam surat terbuka tahun lalu, seorang ulama Saudi yang lama menjadi rujukan bin Ladin, Syeikh Salman al-Oudah, menuntut, “saudara Usamah, sudah berapa banyak darah yang tertumpah? Berapa banyak orang tak berdosa di kalangan anak-anak, orangtua, orang lemah, dan perempuan yang terbunuh dan kehilangan rumah atas nama Alqaidah?”
Kritik yang lebih pedas terhadap atas versi perang suci bin Ladin dilontarkan salahseorang dari segelintir pemikir keagamaan yang benar-benar dihormati di barisan jihadis, Sayyid Imam al-Sharif. Saat ini dia dipenjara di Mesir. Dia telah mengenal Ayman al-Zawahiri, pemimpin ke-dua Al Qaeda, sejak mereka di universitas. Dalam buku yang diijinkan terbit oleh pihak penjara Mesir tahun lalu, al-Sharif menulis tentang bagaimana Syari’ah, hukum Islam, telah dinodai oleh tindakan-tindakan al-Qaeda, “ada pihak yang telah membunuh ratusan manusia, termasuk perempuan dan anak-anak, Muslim dan non-Muslim, atas nama jihad!” Semua perbuatan itu, kata Sharif, tidak dapat diterima di mata Allah, hukum-Nya dan ummat-Nya. Sekali lagi bin Ladin terjerat masalah, dan masalahnya lagi-lagi Islam.
Diterjemahkan dengan bantuan seorang kawan (haturnuhun lur ^^)
Judul asli: The New Face of Islam
About this entry
You’re currently reading “Wajah Baru Islam,” an entry on Sebuah Jalan Setapak
- Published:
- July 24, 2008 / 4:34 am
- Category:
- Orientalisme
No comments yet
Jump to comment form | comment rss [?] | trackback uri [?]